Membaca ulang ruang batik dan wayang sebagai epistemologi visual tandingan
Table of Contents
Batik dan wayang bukan ornamen acak yang lahir dari intuisi tanpa logika; keduanya menyimpan sistem penataan ruang yang sama sahnya dengan grid Swiss yang kita puja, hanya saja berangkat dari kosmologi yang sama sekali berbeda. Yang membuat kita meragukan keberadaan sistem itu bukanlah ketiadaannya, melainkan sebuah amnesia sejarah yang sudah terlalu lama kita warisi tanpa bertanya.
Saya pernah duduk di sebuah sesi kritik tugas mahasiswa desain. Seorang mahasiswa memajang tata letaknya, dan dosen menunjuk satu bagian: “ini kurang seimbang.” Mahasiswa itu mengangguk, lalu menggeser elemen agar patuh pada kolom dua belas kolom vertikal, garis bantu tegak lurus, semuanya rapi. Yang menarik bukan koreksinya, melainkan kosakatanya. Untuk menilai “seimbang” atau “tidak”, kami semua di ruangan itu hanya punya satu bahasa: bahasa grid Barat. Seolah tak pernah ada cara lain untuk menata sebuah bidang.
Ruang yang Tak Pernah Kosong
Mari kita amati akar dari dua cara pandang ini, sebab di sanalah perbedaannya bermula. Grid Swiss yang dirapikan Josef Müller-Brockmann dalam Grid Systems in Graphic Design (1981) tumbuh dari rasionalisme Pencerahan. Dalam logika itu, ruang adalah kanvas kosong yang netral dan sekuler; tugas grid adalah menjinakkannya lewat fragmentasi matematis yang tegak lurus, demi keterbacaan dan efisiensi. Ini bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatannya: ia universal, mudah diajarkan, mudah direplikasi. Tak heran ia menaklukkan dunia.
Tetapi ada harga yang jarang kita hitung dari kemenangan itu. Ketika satu sistem menjadi begitu dominan sampai terasa “alami”, kita berhenti melihatnya sebagai satu pilihan di antara banyak dan mulai mengira ia adalah satu-satunya yang ilmiah.
Bagi banyak peradaban Nusantara, ruang tak pernah kosong dan tak pernah netral. Ia entitas yang bermakna, tempat makrokosmos dan mikrokosmos saling diselaraskan. Struktur rupa tidak dirancang untuk memotong-motong bidang, melainkan untuk menautkan posisi dengan makna. Sebut saja ini grid kosmologis-relasional: pembagian bidang yang luas-sempitnya ditentukan bukan oleh milimeter, melainkan oleh nilai, simbol, dan relasi.

Membaca Ulang Batik: Bukan Permukaan, Melainkan Struktur
Di sinilah kekeliruan paling lazim terjadi. Kita terbiasa memperlakukan batik sebagai hiasan permukaan surface pattern yang indah namun, kita kira, tanpa logika struktural. Anggapan itu ternyata tak bertahan di hadapan penelitian.
Hokky Situngkir, pendiri Bandung Fe Institute, telah lama membedah batik dengan perangkat matematika kompleksitas. Temuannya menarik justru karena melawan dugaan umum: sebuah batik, tegasnya, tidak bisa direduksi sekadar menjadi properti dekoratif. Di balik corak klasik seperti Kawung atau Ceplok bekerja prinsip kemiripan-diri (self-similarity) yang khas geometri fraktal pola yang mengulang bentuk dirinya dalam skala yang makin kecil, dibangun secara iteratif dari elemen terkecil hingga memenuhi bidang. Dengan kata lain: ada struktur rekursif yang ketat di balik apa yang kita kira sekadar “ramai”.
Perhatikan logika ruang Batik Ceplok. Pembagiannya kerap bersandar pada falsafah Keblat Papat Kalima Pancer empat penjuru dengan satu pusat. Bila diterjemahkan ke bahasa desain, ini bukan grid kolom, melainkan tata letak yang memancar dari satu titik jangkar di tengah. Bidang tidak dibaca dari kiri ke kanan, tetapi melingkar dan memusat. Sebuah keseimbangan yang dinamis, yang tak membutuhkan sumbu simetri kaku untuk terasa utuh.


Sanga Mandala: Sebuah Grid Sembilan Zona
Jika batik memberi kita logika fraktal yang memusat, arsitektur tradisional Bali dan Jawa menawarkan sesuatu yang lebih dekat lagi dengan apa yang kita sebut “grid” hari ini. Dalam tata ruang Bali dikenal Sanga Mandala: bidang dibagi menjadi sembilan wilayah berdasarkan derajat nilainya utama, madya, nista dengan pusat sebagai jangkar yang paling penting.
Saya ingin berhati-hati di sini. Menyebut Sanga Mandala sebagai “grid sembilan zona untuk menaruh tombol ajakan bertindak” tentu sebuah penerjemahan, bukan klaim bahwa para leluhur sedang merancang antarmuka. Tetapi sebagai lensa, penerjemahan ini membuka kemungkinan yang menggugah: sebuah sistem tata letak yang menata hierarki bukan dengan kolom, melainkan dengan zona-zona bernilai, dan menggerakkan mata secara melingkar (mengelilingi pusat), bukan melaju lurus dari kiri ke kanan. Bukan pengganti grid Swiss, melainkan kerabat jauhnya yang tumbuh dari nalar yang lain.

Wayang, dan Bukti bahwa Kita Pernah Punya Tata Bahasa Sendiri
Bahwa rupa Nusantara memiliki sistem bukan sekadar naluri sudah lama ditegaskan oleh Primadi Tabrani lewat gagasannya tentang Bahasa Rupa. Menelaah relief Borobudur dan wayang, Tabrani menunjukkan bahwa rupa tradisional kita bekerja dengan cara bercerita ruang-waktu yang khas, yang punya tata bahasanya sendiri berbeda dari konvensi naturalis-perspektif Barat, tetapi sama sekali tidak lebih “primitif”.
Lihatlah gunungan atau kayon dalam wayang kulit. Susunannya tidak acak: gerbang, pohon hayat, dan satwa tertata berhierarki dari pusat ke tepi, sebuah komposisi yang memetakan kosmos. Ia bukan latar belakang yang dekoratif, melainkan sistem ruang yang padat makna. Sebuah grid, dalam pengertiannya yang paling dalam.

Amnesia, dan Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan
Maka pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “apakah Nusantara punya sistem grid”, sebab buktinya berserak di kain, di candi, di kulit kerbau yang ditatah. Pertanyaan yang lebih jujur: mengapa kita begitu yakin ia tidak ada?
Jawabannya bersifat historis, dan tidak nyaman. Sebuah narasi tunggal bahwa yang ilmiah pastilah yang metrik, tegak lurus, dan Cartesian sudah sedemikian lama bekerja sampai kita ikut percaya bahwa warisan kita sendiri hanyalah “kriya yang intuitif”. Ironinya tajam: kita hafal tahun lahir Helvetica dan asal-usul grid Swiss, tetapi gagap menjelaskan logika ruang yang dipakai nenek moyang kita selama berabad-abad.
Saya tidak sedang mengajak mengganti satu hegemoni dengan hegemoni yang lain, atau menolak grid Swiss yang memang berguna. Yang saya ajukan lebih sederhana sekaligus lebih sulit: memulihkan ingatan. Membaca batik, wayang, dan tata ruang vernakular bukan sebagai benda pajangan yang eksotis di museum, melainkan sebagai sistem pengetahuan yang masih bisa diajak berpikir hari ini.
Penutup
Sebuah sistem tata letak, pada akhirnya, bukan hanya soal di mana kita menaruh teks dan gambar. Ia adalah cara sebuah peradaban memahami ruang dan, lewat ruang, memahami posisinya di dunia. Ketika kita memilih grid, kita sedang memilih kosmologi, entah kita sadari atau tidak.
Maka saya tinggalkan satu pertanyaan, yang sejak sesi kritik tugas itu belum bisa saya lepaskan: jika selama ini kita hanya diajari menata ruang dengan satu bahasa, berapa banyak kemungkinan rupa yang sebenarnya kita warisi tetapi tak pernah kita ucapkan, karena tak pernah ada yang mengajari kita namanya?
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu grid kosmologis-relasional? Sistem pembagian bidang yang luas-sempit dan posisinya ditentukan oleh nilai, makna simbolis, dan relasi spiritual bukan oleh ukuran metrik. Khas penataan ruang Nusantara, berbeda dari grid Cartesian Barat.
Apakah batik benar-benar punya struktur, bukan sekadar hiasan? Ya. Penelitian Hokky Situngkir (Bandung Fe Institute) menunjukkan corak batik klasik memiliki kemiripan-diri (self-similarity) khas geometri fraktal dibangun iteratif dari elemen terkecil sehingga tidak bisa direduksi sekadar properti dekoratif.
Apa itu Sanga Mandala dalam konteks desain? Konsep tata ruang tradisional Bali yang membagi bidang menjadi sembilan zona bernilai (utama–madya–nista) dengan pusat sebagai jangkar. Bisa dibaca sebagai analogi “grid 9-zona” yang menata hierarki secara melingkar, bukan linier.
Apa hubungan wayang dengan sistem tata letak? Lewat teori Bahasa Rupa, Primadi Tabrani menunjukkan rupa tradisional (relief Borobudur, wayang) punya tata bahasa ruang sendiri. Gunungan/kayon adalah contoh komposisi berhierarki dari pusat ke tepi sebuah sistem ruang, bukan hiasan acak.
Apakah ini berarti grid Swiss buruk? Tidak. Grid Swiss sah dan berguna karena universal dan efisien. Argumennya bukan menggantinya, melainkan menyadari ia bukan satu-satunya sistem yang absah dan memulihkan ingatan atas sistem kita sendiri.
Rujukan
- Müller-Brockmann, J. (1981). Grid Systems in Graphic Design. Niggli.
- Situngkir, H. (2008–2009). The Computational Generative Patterns in Indonesian Batik & Batik Fractal. Bandung Fe Institute.
- Tabrani, P. (2005). Bahasa Rupa. Bandung: Kelir.