Teknokultur Bukan Kuliah, Ia Soundtrack Zaman Kita
Kita pikir kita yang memegang alatnya. Padahal alat sudah punya partiturnya sendiri, ditulis jauh sebelum kita datang
Platform editorial, riset, dan pengetahuan kreatif untuk desainer, peneliti, dan praktisi di era kecerdasan buatan.
Belum ada artikel. Tambahkan post dengan kategori irdr
Tulis ArtikelBelum ada artikel. Tambahkan post dengan kategori desain-trend
Tulis ArtikelKita pikir kita yang memegang alatnya. Padahal alat sudah punya partiturnya sendiri, ditulis jauh sebelum kita datang
Dulu bikin poster 6 jam, dibayar Rp300 ribu. Sekarang 10 menit pakai AI berarti cuma boleh nagih Rp8 ribu? Kalau kamu menjual waktu, efisiensi adalah bunuh diri pelan-pelan. Didi Subandi membongkar tiga benteng terakhir agensi lokal untuk mengambil kembali kendali. 🏰
Kamu juara satu di Google. Tapi calon klienmu tidak Googling mereka bertanya ke ChatGPT, dan namamu tidak disebut. Selamat datang di era GEO, tempat agensi tidak kalah peringkat, tapi lenyap dari percakapan. 🔎→🤖
Portofolio mahasiswa DKV kita semakin cantik. Sesi review-nya semakin hening. Kami tidak yakin keduanya adalah kabar baik dan kami punya lima alasan untuk itu.
Saya sudah puluhan tahun memegang bahan. Alat berganti terus. Yang tidak pernah berubah adalah: alat tidak tahu kapan harus berhenti. Itu tugas manusia.
Banyak kampus jual dosen praktisi, tapi gaji mereka rendah. Apa dampaknya bagi mahasiswa dan dunia desain?
AI isn't just a job threat. It quietly erodes the embodied craft and rasa cultivated through practice, hindering true skill development.
Gen Z lelah pada kota, lalu lari ke bukit tetapi telepon genggam terangkat lebih dulu sebelum seorang pun sempat menghirup udaranya. Saya membaca ironi halus di balik slow living, warna terapi, dan ruang yang harus fotogenik: sebuah teater keaslian, dengan panggung yang tak pernah kita pilih
"Orang sudah capek desain yang sempurna, sekarang mau yang jujur." Kalimat itu terdengar di tiap kedai kopi desainer Bandung. Tapi saya bertanya: jujur yang seperti apa, dan untuk siapa? Sebuah esai tentang bahasa rupa yang kita tinggalkan bukan yang tertinggal.
Visualis terbuka untuk kontributor — desainer, akademisi, peneliti, praktisi. Tulis sekali, dibaca oleh orang yang tepat.
Newsletter Visualis
Setiap minggu — artikel pilihan, tren industri kreatif, dan laporan eksklusif. Tanpa spam, bisa berhenti kapan saja.
Bergabung dengan 2.400+ pembaca · Gratis selamanya