Jawa Barat Jadi Tatar Sunda: Mengapa Identitas Cirebon dan Bekasi Penting dalam Perdebatan Nama Wilayah

Mengganti nama sebuah wilayah bukan sekadar tukar label; ia memindahkan pusat gravitasi ingatan—memilih cerita siapa yang dirawat, dan cerita siapa yang memudar. Dr. Yully Ambarsih menelusuri wajah Cirebon dan Betawi yang tinggal di sela-sela, dan bertanya: dalam satu nama baru, masih adakah ruang bagi mereka?
Batik artisan applyingAIRdXMF

Sebuah catatan tentang nama, ingatan, dan mereka yang tinggal di sela-sela

Oleh Dr. Yully Ambarsih

Ketika sebuah wilayah seluas dan seberagam Jawa Barat hendak dinamai ulang dengan satu nama etnis, pertanyaan kebudayaannya bukanlah “nama mana yang terdengar lebih indah”. Pertanyaannya jauh lebih halus dan lebih menggigit: siapa yang merasa dipeluk oleh nama itu, dan siapa yang diam-diam merasa dihapus darinya.

Beberapa waktu lalu saya berjalan di sebuah pasar di Cirebon. Yang lebih dulu menyapa saya bukan barang dagangan, melainkan bunyi. Orang-orang bercakap dalam sesuatu yang bukan bahasa Sunda Priangan yang saya kenal, tetapi juga bukan bahasa Jawa yang utuh, sebuah dialek sendiri, dengan iramanya sendiri, tumbuh di perbatasan dua dunia besar. Di kios kain tergantung batik mega mendung, awan bergaya Tiongkok berwarna biru yang tak akan Anda temukan di keraton Yogya maupun di ragam hias Priangan. Saya berdiri di sana dan berpikir: ini bukan Sunda, ini bukan Jawa. Ini Cirebon. Dan Cirebon punya wajahnya sendiri.

Batik mega mendung khas Cirebon
Batik mega mendung khas Cirebon, simbol budaya pesisir perpaduan Jawa, Sunda, Arab, dan Tiongkok.

Sebuah Nama Tak Pernah Cuma Menyebut

Wacana mengembalikan nama “Sunda” ke peta administratif Jawa Barat kembali menghangat belakangan ini. Saya tidak hendak masuk ke ruang sidang atau menimbang untung-ruginya bagi anggaran, biarkan itu jadi urusan yang lain. Yang menarik minat saya adalah lapisan yang lebih dalam, yang jarang dibicarakan: apa yang sebenarnya dilakukan sebuah nama terhadap orang-orang yang dinamainya.

Sebab sebuah nama tempat tak pernah sekadar menyebut. Ia mengingat. Ia memilih, dari sekian banyak cerita yang pernah hidup di sebuah tanah, cerita siapa yang akan dirawat dan ditulis besar-besar di papan, dan cerita siapa yang dibiarkan memudar di catatan kaki. Menamai adalah tindakan ingatan, dan setiap ingatan yang dipilih selalu berdampingan dengan lupa yang tak diucapkan.

Maka mengganti “Jawa Barat”, nama yang memang kaku, sekadar penunjuk arah, dan bahkan tak lagi akurat sejak Banten memisahkan diri pada tahun 2000 dan merebut posisi “paling barat”, dengan “Tatar Sunda” bukan sekadar tukar label. Ia memindahkan pusat gravitasi ingatan. Ia berkata: inilah cerita utama tanah ini. Pertanyaannya kemudian: lalu cerita-cerita yang lain diletakkan di mana?

Yang Bukan Sunda, Tapi Juga Bukan Bukan-Sunda

Di sinilah keriuhan yang sesungguhnya. Sebab tanah yang hendak dinamai itu bukan sehelai kain polos. Ia sudah lama menjadi tenunan berbagai benang.

Cirebon, misalnya, punya sejarahnya sendiri yang keras kepala. Dahulu pelabuhan itu lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Demak, lalu tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang berdiri di atas kakinya sendiri, sebuah kebudayaan pesisir yang mengawinkan Jawa, Sunda, Arab, dan Tiongkok menjadi sesuatu yang baru. Di utara dan barat ada masyarakat Bekasi, yang mendiami tepian yang bersempadan dengan Jakarta. Ada pula komunitas Jawa di pantai utara, dan beragam warga pendatang di kota-kota besar.

Mereka bukan tamu di tanah ini. Mereka penghuni yang sudah berabad-abad ikut menenun wajahnya. Ketika sebuah nama tunggal dipasang di atas kepala mereka semua, yang muncul bukanlah pertanyaan administratif, melainkan pertanyaan eksistensial yang sunyi: apakah aku masih tercantum di sini, atau aku kini hanya menumpang di rumah yang dinamai atas nama orang lain?

Dua Cara Membaca “Sunda”

Menariknya, ada dua cara membaca kata “Sunda”, dan keduanya sama-sama masuk akal.

Cara pertama bersifat memeluk. Dalam pembacaan ini, “Sunda” adalah payung yang luas, dan Cirebon maupun Bekasi sebetulnya adalah anak-anak kandungnya. Sejumlah pengkaji mengingatkan bahwa secara antropologis, budaya Cirebon dan Betawi dapat dibaca sebagai subkultur Sunda; bahwa Bekasi dahulu adalah Sundapura, ibukota Tarumanagara; bahwa “Sunda” pada mulanya jauh lebih besar daripada Priangan hari ini. Dalam pembacaan ini, mengembalikan nama Sunda bukanlah menghapus siapa pun, justru memulangkan semua orang ke rumah asalnya yang lama.

Cara kedua bersifat menghayati. Ia tidak bertanya “secara sejarah kamu keturunan siapa”, melainkan “hari ini kamu merasa siapa”. Dan dalam penghayatan sehari-hari, orang Cirebon kerap merasa Cirebon, orang Bekasi merasa Bekasi, bukan karena menolak sejarah, melainkan karena identitas yang hidup tak selalu tunduk pada silsilah. Bagi pembacaan ini, dipeluk oleh sebuah nama yang bukan nama yang mereka pakai untuk menyebut diri sendiri bisa terasa, betapapun niatnya baik, seperti dihapus dengan lembut.

Saya tidak akan memutuskan mana yang benar di antara keduanya. Justru ketegangan itulah yang ingin saya biarkan tetap hidup. Sebab di situlah letak seluruh persoalan kebudayaan tentang menamai: yang satu memulihkan, yang lain berisiko meratakan, dan seringkali keduanya terjadi sekaligus, di dalam kata yang sama.

Peta yang Menyembunyikan Keriuhannya Sendiri

Setiap nama tunggal untuk sebuah tempat yang jamak, pada akhirnya, melakukan dua hal sekaligus. Ia menyatukan, memberi rasa bangga, jangkar, dan arah bersama. Dan ia meratakan, menghaluskan tonjolan-tonjolan kecil yang justru membuat sebuah tanah menarik, agar ia muat dalam satu kata yang rapi.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa memulihkan nama Sunda adalah keliru. Ada luka sejarah yang nyata dalam terpinggirkannya sebuah identitas oleh label administratif yang dingin, dan keinginan untuk merawatnya kembali adalah keinginan yang manusiawi dan sah, sama halnya ketika kita belajar membaca ulang sistem rupa Nusantara yang selama ini dianggap sekadar hiasan. Yang ingin saya bisikkan hanyalah ini: sebuah nama adalah sebuah peta, dan setiap peta, dengan memilih apa yang ditonjolkan, selalu diam-diam menyembunyikan sesuatu yang lain. Tugas kebudayaan bukanlah menolak peta baru, melainkan menolak lupa pada apa yang disembunyikannya.

Penutup

Sebuah nama, bagaimanapun, hanyalah sepatah kata. Tetapi kata yang dipasang di atas rumah bersama menentukan siapa yang merasa pulang ketika mengucapkannya, dan siapa yang merasa sedikit asing di beranda sendiri.

Maka saya tinggalkan satu pertanyaan, yang saya bawa pulang dari pasar Cirebon itu dan belum juga reda: jika kita akhirnya sepakat merawat satu nama demi memulihkan satu ingatan yang nyaris hilang, sanggupkah kita, pada saat yang sama, cukup besar hati untuk memastikan bahwa di dalam nama itu masih ada ruang bagi mereka yang selama ini tinggal di sela-sela, dan tak pernah benar-benar punya nama yang ditulis besar di papan mana pun?

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Kenapa penggantian nama tempat dianggap persoalan budaya, bukan sekadar administrasi?

Karena nama tempat menyimpan ingatan kolektif. Memilih satu nama berarti memilih cerita mana yang ditonjolkan dan cerita mana yang tersamar, sehingga selalu menyangkut identitas dan rasa memiliki, bukan hanya papan nama.

Apakah Cirebon dan Bekasi termasuk Sunda?

Ada dua pembacaan. Secara antropologis-historis, keduanya kerap dianggap subkultur Sunda (Bekasi dahulu Sundapura, ibukota Tarumanagara). Namun dalam penghayatan sehari-hari, banyak warganya merasa memiliki identitas tersendiri. Keduanya sama-sama sah.

Apa yang khas dari kebudayaan Cirebon?

Cirebon tumbuh sebagai Kesultanan tersendiri setelah lepas dari Kerajaan Sunda, dengan kebudayaan pesisir yang memadukan unsur Jawa, Sunda, Arab, dan Tiongkok, tampak antara lain pada dialek dan batik mega mendung.

Apakah artikel ini menolak penggantian nama?

Tidak. Tulisan ini tidak mengambil posisi setuju atau menolak. Ia mengajak menimbang sisi budaya yang sering luput: bagaimana sebuah nama tunggal bisa sekaligus memulihkan satu identitas dan berisiko meratakan yang lain.

Rujukan

  • Lubis, Nina H., dkk. Sejarah Provinsi Jawa Barat.
  • Catatan sejarah Kesultanan Cirebon, Tarumanagara–Sundapura, dan pemekaran Provinsi Banten (UU No. 23 Tahun 2000).
Previous Article

"Logo HUT RI ke-81: Analisis Desain & Makna Voting Publik untuk Simbol Negara Indonesia"