Ketika Mahkota Binokasih Tersimpan di Museum, dan Ragam Hias Sumedang Belajar Hidup Lagi di Atas Kaos

reka-cipta-kasumedangan

Di Dusun Cipari, Rabu pertengahan Agustus itu, sebuah ruang belajar sederhana milik PKBM Insan Motekar berubah jadi bengkel kecil. Di atas meja-meja lipat, kain-kain kaos polos menunggu diberi wajah baru  bukan logo generik yang biasa dijajakan di kios oleh-oleh, tapi ragam hias yang selama ini lebih akrab bersemayam di balik kaca museum: motif-motif Sumedang Larang yang jarang sekali turun ke jalan.

Camat Jatinunggal, Nurhayat, membuka acara itu dengan kalimat yang terdengar sederhana tapi menyimpan pengakuan yang jujur: di kecamatannya, belum ada satu pun pengrajin yang menguasai keterampilan sablon. Sebuah kecamatan yang berdekatan dengan gemuruh wisatawan Bendungan Jatigede, namun belum punya cara untuk menitipkan namanya sendiri pada benda yang dibawa pulang para pelancong.

Ada jarak yang aneh antara kekayaan visual yang tersimpan rapi di lemari kaca museum, dan kekosongan rak suvenir yang menjual identitas siapa saja selain identitas Sumedang sendiri.

Ketika warisan menjadi arsip, bukan kehidupan

Kabupaten Sumedang menyimpan kekayaan visual yang tidak sedikit. Ada batik Kasumedangan yang merekam jejak filosofi leluhur, ada tarian ketuk tilu, dan ada Museum Prabu Geusan Ulun dengan koleksinya yang memikat  mahkota Binokasih, kereta kencana naga paksi, keris, kujang, pedang  perpaduan arsitektur tradisional dan kolonial yang menyimpan cerita panjang tentang kekuasaan dan identitas.

Tapi warisan yang hanya disimpan, cepat atau lambat, berubah menjadi arsip. Ia dikagumi, difoto, lalu ditinggalkan begitu pengunjung melangkah keluar pintu museum. Survei informal yang dilakukan tim pengusul program ini pada delapan toko oleh-oleh di sekitar kawasan Situ Lengkong pada Oktober 2024 menemukan sesuatu yang mengganggu: kurang dari 15 persen produk yang dipajang benar-benar menampilkan visual budaya lokal Sumedang secara autentik. Sisanya, logo kota generik atau ilustrasi yang bisa ditemukan di kabupaten mana pun.

Ironi ini terjadi justru ketika kunjungan wisatawan domestik ke Sumedang meningkat  menurut catatan Badan Promosi Pariwisata Kabupaten Sumedang, pertumbuhan itu nyata di tahun 2024. Uang wisatawan mengalir, tapi mengalir ke produk yang tidak membawa nama Sumedang pulang bersamanya.

Potret yang lebih dekat: PKBM Insan Motekar

Di titik pertemuan antara warisan yang terarsip dan pasar yang lapar akan keaslian inilah PKBM Insan Motekar berdiri  pusat kegiatan belajar masyarakat di Dusun Cipari, Desa Sarimekar, Kecamatan Jatinunggal, yang didirikan pada 27 April 2021. Motekar, kata Sunda untuk kreatif dan serba bisa, adalah nama yang menyimpan cita-cita: bahwa keahlian tidak harus meninggalkan akar budayanya untuk menjadi bernilai secara ekonomi.

Namun cita-cita dan kenyataan sering berjalan pada kecepatan berbeda. Evaluasi internal PKBM tahun 2023 mencatat bahwa 78 persen lulusan kursus keterampilan tidak melanjutkan praktik kewirausahaan mereka. Bukan karena mereka tidak berbakat, tapi karena tiga hal yang sederhana namun menentukan: keterbatasan akses peralatan produksi, ketiadaan saluran distribusi yang berkelanjutan, dan  yang paling mendasar  tidak adanya bahasa visual yang bisa dijadikan pijakan bersama.

Warga belajarnya adalah gambaran yang jujur tentang wilayah pedesaan-pinggiran: anak-anak yang putus dari sekolah formal, orang dewasa yang sudah bekerja, semuanya dengan etos yang tinggi namun akses ke pelatihan desain digital yang nyaris tak ada. Mereka bisa mengoperasikan mesin jahit, tapi memindahkan motif tradisional ke dalam bahasa desain kontemporer adalah keterampilan yang belum pernah diajarkan siapa pun kepada mereka.

praktek sablon PKBM Insan Motekar
Praktek Sablon Acara PKM UNIKOM di PKBM Insan Motekar

Menjembatani dua dunia: laboratorium kecil bernama sablon

Solusi yang dirancang untuk PKBM Insan Motekar sederhana dalam wujud, tapi ambisius dalam maksud: mendirikan unit produksi merchandise sablon, dengan riset ragam hias lokal Sumedang sebagai jantungnya. Sablon manual atau screen printing dipilih bukan tanpa alasan  teknik yang menjejak sejarah panjang dari serigrafi Andy Warhol hingga produksi massal kaos band ini punya keunggulan durabilitas dan efisiensi biaya yang cocok untuk produksi bertahap, sesuatu yang dibutuhkan sebuah unit usaha kecil di pedesaan.

Pendekatannya disebut digital-to-analog workflow: motif budaya Sumedang lebih dulu didigitalisasi menjadi aset visual modern yang siap cetak, sebelum diterjemahkan kembali ke dalam sablon manual presisi. Riset dan redesain ragam hias pada bulan pertama program menghasilkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bahan produksi  sebuah Pustaka Motif Digital, arsip visual terbuka yang bisa dipakai peneliti, desainer, dan pelaku ekonomi kreatif lain di kemudian hari.

Ini bukan sekadar memindahkan gambar dari dinding museum ke atas kain. ada pekerjaan interpretasi yang harus dilakukan  memilah mana elemen visual yang bisa direka ulang tanpa kehilangan jiwanya, dan mana yang harus dijaga bentuknya tetap utuh. Modifikasi, dalam konteks ini, bukan pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan salah satu cara agar tradisi tetap punya alasan untuk terus diceritakan.

Yang terjadi di Dusun Cipari, 12 Agustus

Rancangan yang tertuang dalam proposal itu kemudian menjelma jadi peristiwa nyata. Pada Rabu, 12 Agustus 2026, sivitas akademika Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)  melibatkan dosen dan mahasiswa dari Program Studi Magister Desain, Desain Grafis, dan Desain Komunikasi Visual  turun langsung ke PKBM Insan Motekar untuk menggelar pelatihan bertajuk “Reka Cipta Sumedangan: Inovasi Estetika Ragam Hias Lokal.” Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara 2026, seperti dilaporkan Tribun Jabar.

Yang menarik dari hari itu bukan hanya materi pelatihannya, tapi siapa yang datang. Bukan sekadar warga belajar PKBM, tapi juga perwakilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dari seluruh desa di Kecamatan Jatinunggal  tanda bahwa kebutuhan ini dirasakan lebih luas dari satu lembaga saja. Peserta dibekali bukan cuma teknik dasar menyablon di atas kaos, tapi juga pemahaman proses perancangan desain, dengan ragam hias khas Sumedang sebagai materi utamanya.

Ketua Yayasan Bakti Insan Motekar, Dedas Dasman Naiman, menyambut kegiatan ini bersama Camat Jatinunggal  pertemuan antara pemerintahan kecamatan, lembaga pendidikan nonformal, dan kampus yang jarang terjadi di ruang yang sesederhana balai belajar desa. Bagi dunia akademik, ini juga wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi  dosen dan mahasiswa keluar dari kelas untuk menguji apakah ilmu desain yang mereka pelajari benar-benar bisa menyentuh kehidupan orang lain.

Motif yang dulu hanya bisa disentuh mata di balik kaca museum, kini dipegang tangan dan disablon di atas kain yang akan dipakai anak muda sehari-hari. Budaya, dalam pengertian ini, sedang dipindahkan dari ruang kontemplasi menuju ruang yang dipakai.

Yang dipertaruhkan bukan sekadar sablon

Ada godaan untuk membaca program semacam ini semata sebagai pelatihan vokasi  mengajarkan keterampilan teknis agar orang bisa mencari nafkah. Itu benar, tapi belum seluruhnya. Yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan adalah pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang berhak menafsirkan ulang warisan budaya, dan dengan cara apa penafsiran itu boleh dilakukan tanpa kehilangan rasa hormat pada asalnya?

Program ini memilih jawaban yang cukup berani: warga belajar sendiri  bukan hanya desainer profesional di kota  yang dilatih untuk memegang kendali penafsiran itu. Ragam hias Sumedang tidak diproyeksikan dari atas oleh kurator museum atau akademisi semata, melainkan diproses ulang oleh tangan-tangan yang tinggal berjarak beberapa kilometer dari sumber budaya itu sendiri. Riset yang relevan menunjukkan bahwa aktivitas modifikasi semacam ini bisa menjadi salah satu jalan sah bagi pengembangan desain berbasis kearifan lokal  bukan pengkhianatan, melainkan keberlanjutan yang mengambil bentuk baru.

Tentu ada risiko dalam pendekatan ini. Motif yang direka ulang oleh tangan yang baru belajar bisa saja kehilangan nuansa yang hanya dipahami mereka yang lahir dan besar dalam tradisi itu. Tapi risiko yang berlawanan  membiarkan ragam hias itu tetap diam di balik kaca, dikagumi tapi tidak pernah lagi dipakai  barangkali risiko yang lebih besar. Budaya yang tidak pernah lagi disentuh, cepat atau lambat, berhenti menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang yang mewarisinya.

praktek sablon PKBM Insan Motekar 1
Praktek Sablon di PKBM Insan Motekar, Jatinunggal

Ekonomi yang menaruh sejarah di lengan baju

Ada satu hal yang layak dicatat dari cara program ini dirancang: keberlanjutannya tidak digantungkan pada satu batch pelatihan lalu selesai. Fase intensif enam bulan pertama diikuti fase peningkatan, dengan target produksi bertahap 200 hingga 250 unit per bulan, menuju seribu unit dalam setengah tahun  angka yang tidak besar untuk skala industri, tapi cukup berarti untuk sebuah desa yang belum pernah punya pengrajin sablon sama sekali.

Kalau rencana ini berjalan sesuai jalurnya, yang akan terjadi bukan hanya bertambahnya satu keterampilan baru di Jatinunggal. Yang terjadi adalah pemindahan sejarah Sumedang Larang dari dinding museum ke lengan baju anak muda yang mungkin belum pernah membaca satu buku sejarah pun tentang leluhurnya  tapi kini memakainya, tanpa harus tahu detail filologisnya, sebagai bagian dari identitas sehari-hari yang mereka pilih sendiri untuk dikenakan.

FAQ

Apa itu program Reka Cipta Sumedangan?

Program pelatihan sablon berbasis ragam hias lokal Sumedang yang digelar UNIKOM di PKBM Insan Motekar, Kecamatan Jatinunggal, Kabupaten Sumedang, pada 12 Agustus 2026, di bawah skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Siapa yang terlibat dalam program ini?

Dosen dan mahasiswa dari Program Studi Magister Desain, Desain Grafis, dan Desain Komunikasi Visual UNIKOM, bekerja sama dengan PKBM Insan Motekar, warga belajar, perwakilan BUMDes se-Kecamatan Jatinunggal, dan didukung langsung oleh Camat Jatinunggal.

Kenapa ragam hias Sumedang dipilih sebagai materi utama?

Karena kekayaan visual Sumedang  batik Kasumedangan, koleksi Museum Prabu Geusan Ulun, dan motif tradisional lainnya  selama ini belum banyak dimanfaatkan dalam produk ekonomi kreatif. Survei informal menemukan kurang dari 15 persen produk suvenir di kawasan wisata Sumedang menampilkan visual budaya lokal secara autentik.

Apa target jangka panjang program ini?

Mendirikan unit produksi merchandise sablon yang mandiri secara ekonomi, dengan target produksi bertahap 200-250 unit per bulan menuju 1.000 unit dalam enam bulan, serta menghasilkan Pustaka Motif Digital sebagai arsip visual terbuka bagi peneliti dan pelaku ekonomi kreatif.

Apakah memodifikasi motif tradisional untuk produk komersial berisiko menghilangkan makna aslinya?

Ini pertanyaan yang layak dipertimbangkan setiap program serupa. Pendekatan yang diambil di sini melibatkan warga belajar setempat dalam proses reka ulang, bukan sekadar desainer luar, dengan harapan penafsiran tetap dekat dengan konteks budayanya. Risiko kehilangan nuansa tetap ada, tapi dianggap lebih kecil dibanding risiko membiarkan motif tradisional tidak pernah lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan redaksi: latar belakang dan data proposal program dalam artikel ini bersumber dari dokumen substansi Program Inovasi Seni Nusantara yang diajukan tim pengusul UNIKOM. Detail pelaksanaan kegiatan pada 12 Agustus 2026 diverifikasi melalui liputan Tribun Jabar.

Previous Article

Dari Eco-Culture menuju Bio-Culture dalam Desain Interior Kontemporer Nusantara

Impact-Site-Verification: d0fa60f4-f7ff-43b5-9f11-221c1e06afe4