“Gelar Doktor Desain Makin Banyak, Tapi Kenapa Bahasa Ilmiahnya Makin Susah Dipahami?”

"Gelar Doktor Desain Makin Banyak, Tapi Kenapa Bahasa Ilmiahnya Makin Susah Dipahami?"

Membongkar formula bahasa tinggi yang lolos sidang promosi doktor tapi tak pernah benar-benar menjelaskan apa-apa

Oleh Redaksi Visualis.id

Karena bahasa yang rumit lebih mudah lolos sidang ketimbang bahasa yang jelasdan di level S2/S3, bukan cuma mahasiswa yang berkepentingan menjaganya tetap rumit, promotornya pun demikian. Sistem karier dosen kita, tanpa sengaja, ikut menghadiahi kerumitan dan menghukum kejernihan, sehingga jargon dalam tesis dan disertasi bukan kecelakaan, melainkan strategi bertahan hidup yang rasional bagi kedua belah pihak.

Pernah nggak Anda perhatikan, di ruang ujian promosi doktor, ada semacam kesepakatan tak tertulis antara promotor dan mahasiswanya? Sang mahasiswa menulis bahasa setinggi mungkin supaya terlihat pantas menyandang gelar “Dr.” di depan nama. Sang promotor mengangguk-angguk membaca bahasa itu, kadang tanpa benar-benar membedahnya kalimat per kalimat karena mempertanyakannya secara telanjang berisiko membuka pertanyaan balik: seberapa dalam sebenarnya promotor sendiri memahaminya? Dua pihak yang sama-sama berkepentingan menjaga kabut tetap tebal, demi kenyamanan bersama.

Bahasa Rupa yang Dipakai Sebagai Jimat, Bukan Alat

Mari kita mulai dari istilah yang paling sering nongol di tesis dan disertasi DKV: “bahasa rupa”. Ini kerangka analisis yang sah dan bergunamasalahnya bukan pada teorinya, melainkan pada cara pakainya di jenjang pascasarjana yang seharusnya menuntut penerapan lebih dalam, bukan sekadar kutipan lebih banyak. Bahkan salah satu penulis panduan teori ini sendiri mengakui secara terbuka bahwa mahasiswa kesulitan menerapkannya, dan teorinya “masih sulit dipahami” sampai sekarang. Ironisnya, di jenjang S2/S3 istilah ini justru makin sering dikutipbukan karena makin dalam dipahami, melainkan karena disertasi memang menuntut lebih banyak halaman kajian teori, dan “bahasa rupa” adalah salah satu kosakata yang terdengar cukup berat untuk mengisi ruang itu.

Yang sama terjadi pada kerangka “kritik formalistik-holistik” dengan sub-kategori data genetik, data objektif, data afektif. Di ujian kolokium atau seminar hasil, kerangka ini sering dipakai sebagai kerangka bab III yang megah tapi begitu penguji bertanya lebih lanjut, “jadi menurut data afektifnya, karya ini kenapa gagal?”, jawabannya kerap kembali jadi opini biasa, hanya dibungkus kosakata yang lebih berat. Kerangkanya jadi kostum sidang. Bukan pisau bedah penelitian.

Kombo Wajib: Objek Lokal, Istilah Impor, Sekarang Berlipat Ganda

Ada satu resep tak tertulis yang nyaris selalu muncul, dan di disertasi porsinya berlipat ganda karena tuntutan “kebaruan teoretis”: ambil objek yang sangat lokalbatik, gerabah, motif ukirlalu paksa ia bertemu dengan istilah yang sangat global“negosiasi budaya”, “dekolonisasi visual”, “hibriditas pascakolonial”. Di tesis S2, kombinasi ini biasanya muncul sekali di bab kerangka teori. Di disertasi S3, karena tekanan untuk terlihat “menyumbang teori baru”, kombinasi serupa bisa muncul berlapis-lapissatu istilah impor menyandarkan diri pada istilah impor lain, membentuk menara kosakata yang makin tinggi, padahal objek lokalnya sendiri tidak pernah benar-benar didengar suaranya.

Interpretasi Jadi Jalan Pintas dari Pembuktian dan Kini Dilindungi Otoritas Promotor

Karena karya seni memang secara sifat terbuka pada banyak tafsir, kalimat “peneliti menginterpretasikan bahwa…” menjadi kartu bebas yang bisa dipakai kapan saja. Di jenjang pascasarjana, kartu ini punya pelindung tambahan: nama promotor yang tercantum di lembar pengesahan. Ketika seorang penguji luar mempertanyakan dasar sebuah interpretasi, jawabannya kerap bergeser dari pembuktian menjadi rujukan otoritas“ini sudah didiskusikan dan disetujui oleh tim promotor.” Pembuktian pun berpindah dari data ke wibawa jabatan.

Kami tidak sedang bilang seni harus diperlakukan seperti rumus matematika, atau bahwa peran promotor tidak penting. Yang kami soroti adalah kemalasan yang bersembunyi di balik kombinasi kata “subjektif” dan “sudah disetujui promotor”seolah dua hal itu bersama-sama cukup untuk membebaskan sebuah tesis atau disertasi dari kewajiban menjelaskan bagaimana kesimpulannya benar-benar didapat.

Kenapa Ini Terus Terjadi? Karena Sistemnya Menghadiahi Kerumitan di Kedua Sisi Meja

Ini bagian yang jarang diakui terang-terangan, dan ini yang membedakan S2/S3 dari sekadar skripsi S1: promotor sendiri punya kepentingan struktural untuk menjaga bahasa akademik tetap “berat”. Kenaikan jabatan fungsional dosen di Indonesia terikat pada sistem angka kredit yang mensyaratkan publikasi di jurnal nasional terakreditasi (SINTA) atau jurnal internasional bereputasi, dan jurnal-jurnal semacam ini punya konvensi gaya bahasa formal-akademis yang kaku sebagai syarat tak tertulis untuk lolos tinjauan sejawat. Seorang promotor yang terbiasa menulis dengan konvensi itu, secara wajar, akan mengajarkan konvensi yang sama kepada mahasiswa bimbingannya bukan karena berniat buruk, melainkan karena itulah bahasa yang selama ini terbukti “aman” bagi kariernya sendiri.

Di sisi mahasiswa S3, ada tekanan lain: gelar “Doktor” adalah penanda status sosial yang berat, dan sidang promosi terbuka adalah panggung terakhir untuk membuktikan diri layak menyandangnya. Bahasa yang sederhana terasa berisiko seolah tak “berbobot” untuk gelar setinggi itu padahal yang sebenarnya dipertaruhkan seharusnya orisinalitas temuan, bukan kepadatan kosakata.

Ironisnya, ilmu pengetahuan justru pernah membuktikan sebaliknya. Sebuah penelitian psikologi kognitif yang terbit di jurnal Applied Cognitive Psychology menemukan bahwa menggunakan kata-kata rumit yang sebetulnya tidak perlu justru menurunkan penilaian pembaca terhadap kecerdasan penulisnyabukan menaikkannya. Studi itu sendiri, secara jenaka, memberi judulnya dengan bahasa serumit mungkin sebagai sindiran, dan berhasil memenangkan Ig Nobel Prize karena efek ironisnya. Dengan kata lain: mengesankan penguji lewat kerumitan itu, secara empiris, sering berbalik jadi bumeranghanya saja di ruang sidang promosi doktor, jarang ada yang berani mengujinya secara terbuka.

Gejala ini bukan cuma soal pascasarjana. Kami sudah pernah membahas gejala serupa dari sisi lain di kampus DKV, ketika mahasiswa terlalu bergantung pada hasil instan tanpa memahami proses di baliknya pola yang sama: penampilan yang meyakinkan, substansi yang keropos di baliknya, hanya beda level dan beda taruhan.

Pembelaan yang Adil untuk Teoridan untuk Promotor

Supaya adil: bukan berarti semua teori kritik seni, bahasa rupa, atau kajian pascakolonial itu omong kosong, dan bukan berarti semua promotor sengaja mengajarkan kekaburan. Banyak dari kerangka ini lahir dari pemikiran serius dan benar-benar berguna ketika dipakai dengan disiplin dipakai untuk benar-benar membedah, bukan sekadar dikutip sebagai formalitas bab kerangka teori. Banyak promotor pun sebenarnya sadar betul soal ini dan justru mendorong mahasiswanya menulis lebih jernih, meski sering kalah oleh tekanan konvensi jurnal dan ekspektasi penguji lain. Persoalannya bukan pada eksistensi teorinya atau niat individu, melainkan pada sistem insentif yang secara struktural lebih menghargai kepatuhan pada format berat ketimbang kejernihan gagasan.

Penutup

Jadi begini. Bahasa tinggi dalam tesis dan disertasi desain bukan sekadar gaya menulis yang keliru, dan bukan cuma “kesalahan” mahasiswa yang sedang belajar menulis ilmiah. Ia gejala dari sistem dua lapis karier dosen dan status sosial gelar doktor yang, tanpa sadar, sama-sama mengajarkan bahwa terlihat berbobot lebih penting daripada benar-benar jelas.

Pertanyaannya sekarang tinggal kita lempar balik ke ruang sidang itu sendiri: kalau besok semua promotor sepakat menghadiahi kejelasan dan menghukum kekaburan meski itu berarti mempertaruhkan kenyamanan bersama yang selama ini terjaga beranikah mahasiswa S2/S3 kita menulis disertasi yang bisa dipahami penguji tanpa kamus istilah di tangan, dan beranikah promotor mengakui bila mereka sendiri pun tak sepenuhnya paham?

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Kenapa bahasa di tesis dan disertasi desain sering lebih berat dibanding skripsi S1?

Karena jenjang S2/S3 menuntut “kebaruan teoretis” dan dianggap sebagai puncak pencapaian akademik, sehingga ada tekanan tambahan untuk terlihat berbobotbaik dari sisi mahasiswa yang mengejar gelar, maupun dari sisi promotor yang terikat konvensi jurnal akademik dalam kariernya sendiri.

Apa hubungan sistem angka kredit dosen dengan gaya bahasa tesis/disertasi?

Kenaikan jabatan fungsional dosen di Indonesia mensyaratkan publikasi pada jurnal terakreditasi SINTA atau jurnal internasional bereputasi. Jurnal-jurnal ini punya konvensi gaya bahasa formal-akademis yang kaku, dan promotor yang terbiasa dengan konvensi tersebut secara wajar mewariskannya kepada mahasiswa bimbingan.

Apakah teori seperti “bahasa rupa” atau kritik formalistik itu keliru?

Tidak. Kerangka-kerangka itu sah dan berguna. Masalahnya bukan pada teorinya, melainkan pada kecenderungan memakainya sebagai formalitas bab kerangka teori tanpa benar-benar menerapkannya untuk membedah objek yang dikaji.

Benarkah bahasa rumit membuat tulisan terlihat lebih pintar?

Justru sebaliknya. Penelitian di jurnal Applied Cognitive Psychology (Oppenheimer, 2006) menemukan bahwa kompleksitas bahasa yang tidak perlu justru menurunkan penilaian pembaca terhadap kecerdasan penulisnya.

Apakah artikel ini menuduh promotor atau mahasiswa tertentu?

Tidak. Tulisan ini membahas pola sistemik di banyak institusi pascasarjana, bukan menuding pribadi, program studi, atau kampus tertentu. Kami membaca kecenderungan umum dalam sistem insentif akademik, bukan memvonis satu pihak.

Rujukan

• Oppenheimer, D.M. (2006). “Consequences of Erudite Vernacular Utilized Irrespective of Necessity: Problems with Using Long Words Needlessly.” Applied Cognitive Psychology, 20, 139–156.

• Sistem Penilaian Angka Kredit Dosen, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI (pak.kemdikbud.go.id)  ketentuan jurnal nasional terakreditasi (SINTA) sebagai syarat kenaikan jabatan akademik dosen.

• Harto, D.B. “Instrumen untuk Analisis Bahasa Rupa sebagai Dasar/Konsep Penciptaan dan untuk Mengetahui Bahasa Rupa yang Digunakan/Diterapkan pada Karya Seni Rupa atau Desain.”

Previous Article

Ketika Mahkota Binokasih Tersimpan di Museum, dan Ragam Hias Sumedang Belajar Hidup Lagi di Atas Kaos

Write a Comment

Leave a Comment

Impact-Site-Verification: d0fa60f4-f7ff-43b5-9f11-221c1e06afe4