Membaca kembali horror vacui sebagai tata bahasa visual, bukan kekacauan yang menolak aturan
Karena keduanya sama-sama menolak grid demi alasan yang sama: keterbacaan bukan tujuan akhir, melangkau perhatian di tengah kebisingan itulah tujuannya. Bedanya, satu dilakukan di ruang pameran desain New York, satu lagi dilakukan setiap sore di tiang listrik dekat terminal dan keduanya, secara mengejutkan, sama-sama punya nama dalam kepustakaan sejarah seni.
Suatu sore saya berdiri menunggu angkot di dekat sebuah warung tenda. Di kaca belakang angkot yang lewat, huruf-huruf sticker vinil meliuk mengikuti lengkung kaca, patah-patah karena terpotong pilar pintu, bertumpuk dengan stiker trayek resmi. Sementara itu, spanduk warung di samping saya penuh sesak: gambar lele meliuk, tulisan besar “murah meriah”, warna jingga menyala bertabrakan dengan hijau stabilo, tanpa satu milimeter pun ruang yang dibiarkan kosong. Seorang mahasiswa desain yang baru lulus tentu akan mencibirnya: tidak ada hierarki, tidak ada grid, tidak ada white space. Tapi saya justru berhenti dan bertanya sebaliknya: bahasa visual macam apa ini, yang begitu percaya diri mengabaikan semua yang diajarkan di studio, dan tetap berhasil membuat saya menoleh?

Nama untuk Sesuatu yang Sering Dianggap Tak Bernama
Istilah yang tepat untuk kepenuhan semacam itu sebenarnya sudah lama ada dalam sejarah seni: horror vacui, dari bahasa Latin, “ketakutan akan ruang kosong”. Istilah ini bukan sekadar cara menyebut “ramai” secara merendahkan. Ia dorongan estetis yang sudah dipetakan lintas budaya, dari ornamen naskah Insular Kuno, dekorasi Arabesque dalam seni Islam, sampai ini yang menarik untuk kita lukisan tradisional Bali, di mana konsep lokal yang disebut ngrawit menuntut setiap bidang dipenuhi ukiran rupa yang rumit, tanpa menyisakan ruang kosong sedikit pun.
Yang menarik, horror vacui bukan sekadar label kolonial dari luar yang ditempelkan ke Timur untuk menandai kita sebagai “belum rapi”. Ia istilah yang juga dipakai untuk menandai karya seni Islam yang justru disusun lewat perhitungan geometris presisi, dan bahkan ironisnya dipakai kritikus desain untuk menggambarkan karya seorang tokoh Barat yang akan kita bahas sebentar lagi. Artinya, kepenuhan bukan lawan dari kecerdasan visual. Ia sekadar tata bahasa yang berbeda, dengan hukumnya sendiri.
David Carson: Pemberontak yang Ternyata Berbicara Bahasa yang Sama
Di sinilah letak ironi yang jarang disadari mahasiswa desain kita. David Carson, legenda desain editorial era Ray Gun tahun 1990-an, terkenal karena satu kalimat: “Don’t mistake legibility for communication” jangan salah mengira keterbacaan sebagai komunikasi. Carson menyusun langsung di atas halaman tanpa bertumpu pada grid, membiarkan teks melintasi batas kolom, menumpuk foto di atas huruf, memperlakukan halaman sebagai satu permukaan ekspresif, bukan kisi-kisi Cartesian yang harus dipatuhi. Karyanya begitu radikal sehingga kritikus desain sendiri, ketika mencari kata untuk menjelaskannya, mengambil istilah yang sama dengan yang dipakai untuk seni ornamen tradisional: horror vacui.
Coba renungkan ini sejenak. Seorang desainer Barat yang dipuja sebagai pemberontak paling radikal terhadap grid Swiss, karyanya justru dikategorikan dengan istilah yang sama dengan yang kita pakai untuk menjelaskan ukiran, batik, dan lukisan Bali. Kalau begitu, pertanyaan yang lebih jujur bukan “mengapa desain Nusantara menolak keteraturan Barat”, melainkan: mengapa yang oleh dunia Barat sendiri disebut jenius ekspresif, ketika muncul di kaca angkot dan spanduk warung tenda, oleh kita sendiri malah disebut berantakan?
Primadi Tabrani: Ruang yang Tak Pernah Diam
Ada penjelasan yang lebih dalam dari sekadar selera, dan untuk itu kita perlu menoleh ke jangkar akademis lokal kita sendiri. Guru besar FSRD ITB, almarhum Primadi Tabrani, menunjukkan bagaimana sistem bahasa rupa tradisional Nusantara yang ia sebut Ruang-Waktu-Datar bekerja dengan logika berbeda dari tradisi Barat. Relief candi dan wayang beber tidak mengunci pandangan pada satu titik lenyap tunggal ala perspektif Renaisans, leluhur langsung dari grid Swiss. Cara pandang ini sudah pernah kami telusuri lebih jauh lewat jejak matematis pada motif batik yang bersifat fraktal dan berulang, bukan linear-euklidian.
Jika ruang dalam bahasa rupa kita bersifat siklik dan bergerak mengikuti alur narasi, maka kisi-kisi tegak lurus yang mengunci setiap elemen pada koordinat tetap memang secara alami terasa memotong kelenturan itu. Bukan karena kita tidak paham keteraturan. Karena keteraturan yang kita anut berjalan menurut waktu dan gerak, bukan menurut kotak-kotak diam di atas kertas kalkir.
Bukan Menolak Aturan, Melainkan Menolak Aturan yang Salah Konteks
Penting untuk jujur di sini: Gaya Tipografi Internasional yang lahir di Basel dan Zurich pascaperang bukan lahir dari kejahatan. Ia lahir dari kebutuhan nyata netralitas dan efisiensi komunikasi birokrasi lintas bahasa di Eropa yang baru saja hancur oleh perang. Josef Müller-Brockmann menyusun kisi-kisi itu sebagai jawaban jujur atas kekacauan zamannya. Persoalannya bukan pada kisi-kisi itu sendiri, melainkan ketika ia diimpor mentah-mentah ke ruang hidup yang punya logika berbeda ruang yang lebih dekat pada konsep hibriditas yang diusulkan pemikir pascakolonial Homi K. Bhabha: bahwa identitas yang lahir dari pertemuan budaya bukan pencampuran yang rapi, melainkan sesuatu yang baru sama sekali, dengan tata aturannya sendiri.
Ketika tipografi huruf balok bertabrakan dengan ornamen flora, ketika warna stabilo ditumpuk di atas kain blacu, yang terjadi bukan kegagalan menerapkan grid. Itu adalah tata bahasa hibrida yang lahir dari pertemuan dua dunia, dengan logikanya sendiri yang belum tentu bisa dinilai dengan alat ukur yang dirancang untuk dunia yang lain.
Penutup
Saya tidak sedang mengajak kita meninggalkan grid, atau berpura-pura bahwa kerapian tak pernah berguna. Yang ingin saya ajukan lebih sederhana: sebelum menjatuhkan vonis “belum matang” pada sebuah karya yang penuh dan ramai, ada baiknya kita bertanya dulu, bahasa visual siapa yang sedang dipakai untuk menilainya.
Sebab kalau spanduk pecel lele dan karya David Carson ternyata bisa dijelaskan dengan istilah yang sama dalam kepustakaan seni, mungkin yang perlu direvisi bukan spanduknya. Mungkin yang perlu direvisi adalah keyakinan kita tentang siapa yang berhak menentukan apa itu desain yang matang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu horror vacui?
Horror vacui adalah istilah dari bahasa Latin yang berarti “ketakutan akan ruang kosong” kecenderungan mengisi penuh sebuah bidang dengan ornamen atau informasi. Istilah ini dipakai lintas budaya, dari seni Islam, ornamen Victoria, hingga lukisan tradisional Bali.
Benarkah David Carson dikaitkan dengan horror vacui?
Ya. Sejumlah tulisan sejarah desain mengategorikan karya David Carson di Ray Gun yang memadati halaman dengan lapisan tipografi dan gambar tanpa mengikuti grid dalam kerangka estetika horror vacui, istilah yang sama yang dipakai untuk menjelaskan ornamen tradisional dari berbagai budaya.
Apa itu Ruang-Waktu-Datar menurut Primadi Tabrani?
Konsep yang menjelaskan bagaimana bahasa rupa tradisional Nusantara (relief candi, wayang beber) mengorganisasi ruang secara siklik dan naratif, mengikuti alur waktu dan gerak, alih-alih mengunci pandangan pada satu titik lenyap tunggal seperti dalam perspektif Renaisans Barat.
Apakah artikel ini menolak penggunaan grid system dalam desain?
Tidak. Grid Swiss lahir dari kebutuhan nyata dan tetap berguna dalam banyak konteks. Yang dipertanyakan adalah penerapannya secara mentah ke ruang visual dengan logika budaya yang berbeda, tanpa mempertimbangkan konteks di mana ia dipakai.