Oleh Dr. Yully Ambarsih Ekawardhani, M,Sn | Dosen Pacsarjana Desain UNIKOM
Keindahan yang lahir tanpa tubuh bisa memukau mata, tetapi ia tidak membawa jejak pengalaman yang membuat sebuah citra terasa dialami. Itulah yang perlahan menghilang ketika proses rupa kita serahkan sepenuhnya pada kalkulasi statistik. Tulisan ini mencoba menguraikan kehilangan itu dengan tenang, tanpa menuding siapa pun.
Suatu sore di sudut studio yang bau lem, tiner, dan sisa puntung rokok, seorang mahasiswa datang dengan wajah berbinar-binar. Di tangannya ada sebuah poster pameran yang tampak sangat licin, mulus, dan berkilau. Cahayanya dramatis, kontrasnya pas, komposisinya mengingatkan kita pada mahakarya galeri digital kelas kakap.
“Keren, kan, Bu? Saya cuma butuh waktu tiga puluh detik pakai prompt baru,” ujarnya bangga.
Saya menatap layar ponselnya lama sekali. Bukan karena kagum, melainkan karena saya mendadak merasa asing. Poster itu indah secara optik, tetapi terasa sunyi. Tidak ada keringat di sana. Tidak ada perdebatan kusir antara tukang sablon dan desainer yang salah paham ukuran. Tidak ada sisa goresan tangan yang gemetar karena tenggat menempel di tengkuk. Yang ada hanyalah hasil hitungan dari server ribuan kilometer jauhnya, yang tak pernah tahu bagaimana rasanya mencium bau tanah basah setelah hujan di lembah Cimenyan.
Saya tidak menegur mahasiswa itu. Saya hanya bertanya, pelan-pelan, bagian mana dari poster itu yang ia alami. Ia terdiam cukup lama. Dalam diam itulah, barangkali, pelajaran hari itu sesungguhnya berlangsung.
Barangkali inilah yang disebut sebagian pemikir sebagai Estetika Tanpa Tubuh (disembodied aesthetics): suatu masa ketika kita, dengan cukup sukarela, menitipkan kedaulatan indrawi kepada kalkulator berukuran kosmik, lalu merasa nyaman menyebut diri “seniman visioner”.
Raga yang Perlahan Dikeluarkan dari Perhitungan
Dalam sejarah peradaban rupa, dari coretan arang nenek moyang kita di dinding gua hingga peluh para maestro Renaisans, sebuah citra nyaris selalu lahir dari pengalaman tubuh. Mata melihat cahaya yang menyengat, tangan gemetar menorehkan cat minyak, pikiran bergulat dengan rasa sakit dan ingatan kolektif. Ada raga yang meradang, lalu melahirkan keintiman.
Kini algoritma menawarkan jalan yang jauh lebih landai, dan kita, yang memang manusia, cenderung memilih jalan landai bila ada yang menawarkannya. Di dalam apa yang disebut latent space, ruang representasi multidimensional tempat model generatif memetakan pola visual dari data latihnya, tidak ada paru-paru yang sesak dan tidak ada kelelahan fisik. Yang bekerja hanyalah kalkulasi kedekatan statistik antarpola (istilah teknis ini dipakai secara metaforis-kritis, bukan penjelasan presisi ilmu komputer; pembaca yang memerlukan definisi ketat disarankan merujuk literatur machine learning).
Mesin tidak mengenal lelah. Ia tidak menyimpan kenangan masa kecil, tidak pernah patah hati, dan tidak mengenal empati. Hasilnya adalah visual yang nyaris tanpa cacat teknis, tetapi secara ontologis hidup dari listrik PLN tanpa pernah benar-benar bernapas.
Apa yang Sebenarnya Kita Maksud dengan “Tubuh”?
Di titik ini, saya perlu berhati-hati agar kata “tubuh” tidak terdengar romantis belaka. Dalam tradisi fenomenologi, misalnya pada Maurice Merleau-Ponty, tubuh bukan sekadar wadah yang mengantar perintah dari kepala ke tangan. Tubuh adalah cara kita berada di dunia, dan dari sanalah makna pertama kali terbentuk (rujukan konseptual pada Phenomenology of Perception*; lihat ringkasan di Stanford Encyclopedia of Philosophy, Seorang pelukis tidak sekadar “menerapkan” ide pada kanvas. Ia menemukan idenya di dalam gerak tangan yang menolak, tersandung, lalu menyimpang dengan cara yang tidak ia rencanakan.
Gagasan Walter Benjamin (1936), tentang hilangnya aura pada karya yang dapat direproduksi secara mekanis agaknya sejalan dengan kegelisahan ini. Bedanya, kali ini yang direproduksi bukan hanya hasilnya. Prosesnya pun ikut digantikan.
Jadi ketika saya berbicara tentang “tubuh”, yang saya maksud adalah seluruh riwayat perjumpaan, yaitu waktu yang terbuang, kesalahan yang diperbaiki, dan kebetulan yang diselamatkan. Semua itu memberi sebuah citra kedalaman yang tidak bisa dipasang belakangan seperti filter.
Kesempurnaan yang Datang Beresolusi Tinggi
Coba amati lini masa media sosial Anda hari ini. Semuanya tampak serupa, seolah lahir dari satu rahim. Wajah-wajah tersenyum dengan simetri yang hampir terlalu rapi, lanskap kota berbalut rim light sinematik yang kian seragam, poster-poster yang semuanya beraroma stock photo pabrikan.
Sejumlah pengamat menyebut gejala ini Hiper-Homogenisasi Visual. Riset Doshi & Hauser (2024) memberi pijakan awal: AI generatif tampak dapat meningkatkan kreativitas individu, tetapi cenderung mempersempit keragaman gagasan secara kolektif. Kalimat itu patut dibaca dua kali. Tidak ada yang mengatakan mesin membuat kita kurang kreatif sebagai pribadi. Yang dipersoalkan adalah apa yang terjadi pada kita sebagai kumpulan, ketika semua orang bertanya pada sumur yang sama.
Algoritma, secara struktural, memang cenderung mencari nilai tengah dan menyisihkan anomali. Padahal di anomali itulah keunikan manusia selama ini bersemayam. Ironisnya, kita justru mengagumi keseragaman ini dan memuji kecerdasan mesin yang sesungguhnya memantulkan kembali residu kebudayaan visual yang telah dikunyah berulang-ulang. Ketika estetika direduksi menjadi rata-rata hitung, kita diam-diam mengantarkan kepergian kebetulan artistik, momen aksidental yang dalam tradisi kreatif manusia sering menjadi sumber terobosan. Ini bukan sekadar keluhan nostalgik seorang pengajar. Argumen serupa, dari sudut yang lebih praktis, pernah di bahas di visualis.id mengapa menyamakan AI generatif dengan alat konvensional adalah penyangkalan yang terlalu nyaman.
Dari Pembaca Tanda Menjadi Perangkai Kata
Dulu, Roland Barthes (1977), mengajarkan bahwa membaca gambar adalah petualangan semiotik: membongkar tanda, konotasi, dan ideologi di balik sebuah goresan. Hari ini, petualangan itu kerap menyusut menjadi keahlian menyusun kalimat perintah di sebuah kotak dialog.
Sebagian praktik desain pun perlahan beralih menjadi prompt whisperer. Mereka fasih dalam tata bahasa perintah berbahasa Inggris, tetapi kian jarang berurusan dengan makna. Mereka meminta mesin menggambarkan “semangat perlawanan buruh”, padahal boleh jadi perjumpaan mereka dengan kata “perlawanan” selama ini lebih banyak berlangsung di layar ketimbang di jalan. Saya katakan ini dengan simpati, bukan ejekan. Tidak semua pengguna demikian. Ini generalisasi yang sengaja saya tajamkan sedikit untuk kepentingan refleksi.
Meminjam istilah sineas-teoretikus Harun Farocki (2004), yang kita saksikan hari ini mendekati operational images, yaitu citra yang tidak diciptakan untuk direnungkan manusia, melainkan untuk berfungsi dalam rantai kerja komputasi lain. Citra semacam itu indah bukan karena ada pesan yang menggetarkan dada, melainkan karena rumus matematikanya menyaring habis semua noise kehidupan, padahal noise itulah bukti bahwa sesuatu pernah benar-benar dialami.
Menutup Layar, Menyalakan Nalar
Maka, sebelum jari Anda kembali mengetik mantra cinematic lighting, 8k resolution, trending on ArtStation, barangkali ada baiknya berhenti sejenak.
Tanyakan pada diri sendiri, pelan-pelan saja: apakah rupa yang sedang Anda bangun hari ini lahir dari pergulatan batin dan kesadaran kultural, ataukah Anda, tanpa sepenuhnya menyadari, sedang menjadi perpanjangan tangan dari pusat data raksasa yang tidak pernah tahu siapa Anda?
Saya tidak mengajak Anda membenci teknologi ini. Itu hanya akan menjadi kenaifan lain yang tak kalah mudahnya dengan memuja buta. Yang saya ajukan lebih sederhana sekaligus lebih berat: biarkan satu bagian dari proses Anda tetap berada di tubuh. Mulailah dari sketsa tangan sebelum mengetik prompt, atau tuliskan dulu apa yang pernah Anda alami tentang tema yang hendak digambar. Seduh kopi hitam. Biarkan jari-jari Anda kotor oleh pensil. Sebab jika tidak, esok lusa yang kita butuhkan barangkali bukan lagi desainer, melainkan juru ketik yang pandai menunduk di hadapan algoritma. Saya belum yakin kita sudah siap menerima kemungkinan itu dengan tenang.
Referensi:
1. Kritik Teknologi, Citra, dan Disembodiment
- Benjamin, Walter. (1936). The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction. (Refleksi klasik mengenai hilangnya aura karya seni akibat reproduksi massal, yang kini menemukan bentuk ekstremnya dalam era reproduksi algoritmik).
- Farocki, Harun. (2004). Phantom Images & Operational Images (Public, 29). (Esai kunci mengenai citra yang diciptakan bukan untuk dilihat manusia, melainkan untuk diproses oleh mesin/sistem navigasi militer dan komputasi).
- Flusser, Vilém. (2000). Toward a Philosophy of Photography. Reaktion Books. (Analisis mendalam mengenai bagaimana alat (apparatus) dan program teknis menguasai subjek manusia, mengubah fotografer/desainer menjadi sekadar operator fungsi).
2. Semiotika, Media Baru, dan Budaya Digital
- Barthes, Roland. (1977). Image-Music-Text. Hill and Wang. (Fondasi dekonstruksi tanda visual, denotasi, dan konotasi dalam retorika gambar).
- Manovich, Lev. (2001). The Language of New Media. MIT Press. (Karya rujukan utama untuk memahami bagaimana logika komputer, basis data (database), dan algoritma menstruktur ulang estetika visual modern).
- Cramer, Florian. (2014). What is ‘Post-Digital’? (A Peer-Reviewed Journal About, 3(1)). (Refleksi kritis mengenai kondisi budaya pasca-digital ketika teknologi digital tidak lagi dianggap baru, melainkan telah melebur dan mendegradasi praktik material).
3. Ekonomi Politik Algoritma & Estetika Kapitalisme
- Srnicek, Nick. (2017). Platform Capitalism. Polity. (Menjelaskan bagaimana infrastruktur digital dan server raksasa memonopoli data dan mengekstrak nilai dari aktivitas kultural kita).
- Baudrillard, Jean. (1994). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press. (Diskursus mengenai hiperrealitas, di mana representasi menggantikan realitas itu sendiri—sangat relevan dengan fenomena latent space AI yang mensimulasikan rupa tanpa pernah menyentuh substansi empiris).
FAQ
1. Apakah artikel ini menolak penggunaan AI generatif dalam proses kreatif?
Tidak sepenuhnya. Argumen inti artikel ini adalah kritik terhadap ketergantungan tanpa refleksi, bukan penolakan kategoris terhadap teknologi. Penekanannya pada pentingnya mempertahankan proses perenungan dan kesadaran kultural dalam proses kreasi.
2. Apa itu “Estetika Tanpa Tubuh” (disembodied aesthetics)?
Istilah yang dipakai untuk menggambarkan karya visual yang dihasilkan tanpa keterlibatan pengalaman fisik-indrawi penciptanya — sebuah konsep kritis yang dibangun dari tradisi estetika yang menekankan peran tubuh dan pengalaman dalam penciptaan seni, bukan istilah baku tunggal yang disepakati seluruh disiplin filsafat seni.
3. Benarkah penggunaan AI generatif terbukti menyebabkan homogenisasi visual secara ilmiah?
Ada indikasi awal dari penelitian seperti Doshi & Hauser (2024), namun ini masih tergolong temuan awal yang perlu diuji lebih luas, bukan konsensus ilmiah final yang berlaku universal untuk semua konteks penggunaan AI generatif.
4. Siapa Harun Farocki dan apa itu “operational images”?
Harun Farocki adalah sineas dan teoretikus media asal Jerman yang dikenal mengkaji citra-citra yang berfungsi dalam sistem operasional/komputasional, bukan untuk kontemplasi estetis manusia semata. Karya dan istilah spesifiknya disarankan ditelusuri ke sumber primer untuk keperluan akademis.
5. Apakah artikel ini cocok dijadikan rujukan akademis formal?
Artikel ini ditulis dengan gaya esai reflektif-kritis untuk kebutuhan publikasi populer, bukan artikel jurnal ilmiah. Sitasi tokoh (Barthes, Farocki, Doshi & Hauser) sebaiknya ditelusuri ke sumber primer aslinya sebelum dikutip ulang dalam tulisan akademis formal.