Pasar Seni ITB 2025 menghadirkan branding visual yang mengikuti tren global Y2K/Acid Graphics dengan eksekusi yang baik secara komersial. Namun, artikel ini mengkritisi pendekatan “template-driven” yang dipilih, dibandingkan dengan warisan “craft-driven” Pasar Seni ITB 2014 yang lebih orisinal dan konseptual.
Mari kita jujur: Branding visual Pasar Seni ITB 2025 dieksekusi dengan sangat baik.
Palet warnanya acid (ungu, lime green, hot pink) yang nyetrum. Tipografinya bubbly yang playful. Karakter-karakternya blobby yang imut. Ini adalah paket lengkap trend global Y2K / Acid Graphics. Secara komersial, ini 100% berhasil. Cepat, relevan, clickable, dan sangat “Gen Z”.
Tapi di visualis.id, kita tidak berhenti di “bagus”. Kita bertanya: “bagus” ini orisinal, atau “bagus” ini efisien?
Dan saat kita kuliti, kita menemukan sebuah resep “jalan pintas”.
Resep “Kawung-Core”: Tempelan, Bukan Sintesis
Lihat lebih dekat flyer-flyer 2025. Di antara font-font bubbly dan warna acid yang sangat global itu, kita melihat taburan “bumbu lokal”. Ada pattern bunga atau ornamen yang dibuat pixelated.

Itu adalah pseudo-batik. Sebuah upaya stylizing motif tradisional (mungkin kawung atau flora lain) agar “lebur” dengan estetika digital Y2K. Kita sebut saja ini resep “Kawung-Core”.
Dan di sinilah letak masalah konseptualnya. Ini bukan sintesis. Ini tempelan.
- Sintesis adalah ketika dua ide (lokal & global) melebur di tingkat filosofis, menciptakan sebuah bahasa visual yang sama sekali baru.
- Tempelan adalah apa yang kita lihat di sini: mengambil sebuah template global yang sudah jadi, yang sedang hype, lalu menaburkan ornamen-ornamen lokal di atasnya sebagai garnish agar terkesan “ada identitasnya”.
Mereka tidak bertanya, “Bagaimana filosofi ‘Setakat Lekat’ bisa melahirkan visual orisinal?” Mereka bertanya, “Gaya desain apa yang lagi ngetren, dan gimana caranya kita ‘tempelin’ identitas lokal biar nggak kelihatan copy-paste total?”
Ini adalah sebuah jalan pintas. Sebuah re-skinning.
Masalah “Sang Mercusuar”
Kenapa ini ‘gatel’? Kenapa kita harus repot-repot mempermasalahkan ini?
Karena kita tidak sedang bicara soal kampus desain kemarin sore. Institusi di Ganesha ini, secara historis, adalah ‘mercusuar’-nya desain Indonesia. Tempat di mana trend seharusnya dilahirkan, bukan sekadar diratifikasi.
Kita tidak mengharapkan FSRD mengikuti trend global. Kita mengharapkannya menciptakan sebuah bahasa baru yang membuat desainer global menoleh dan berkata, “Wah, ini apa lagi dari Bandung?”
Yang kita harapkan dari sebuah ‘mata air’ adalah orisinalitas radikal. Yang kita dapat di 2025 adalah sebuah infused water template global yang dieksekusi dengan rapi, lalu diberi topping “Kawung-Core” agar segar.
Barang Bukti 2014: Antitesis dari Arsip Mereka Sendiri
Tapi, investigasi kami menemukan “barang bukti” kunci: Poster Pasar Seni ITB 2014.
Argumen “jalan pintas” ini bisa dipatahkan dengan, “Ah, ini kan emang zamannya.”
Mari kita letakkan bersebelahan.

Poster 2014 (Barang Bukti):
- Proses: 100% craft-driven. Ini human-touch. Sebuah artwork ilustrasi yang ‘berat’, bukan brand asset yang ‘ringan’.
- Gaya: Ini psychedelic low-brow art. Gaya urakan yang sangat detail, chaotic, dan grotesque. Ini adalah bahasa visual seniman, bukan bahasa visual brand manager.
- Tipografi: Semuanya custom. Digambar tangan, menyatu dengan ilustrasi.
- Konsep: Ini adalah SINTESIS. Mereka mungkin mengambil ruh global (misal, underground comics), tapi mereka menciptakannya ulang dengan craft dan karakter mereka sendiri. Hasilnya adalah sebuah karya orisinal yang utuh.
Poster 2025 (TKP):


- Proses: 100% template-driven. Ini computer-touch. Sebuah brand asset yang ‘ringan’ dan mudah diaplikasikan ke berbagai media.
- Gaya: Ini Y2K/Acid Graphics. Gaya clean, playful, dan sangat online. Ini bahasa visual marketer.
- Tipografi: Bubbly font standar yang bisa ditemukan di web aset grafis.
- Konsep: Ini adalah TEMPELAN. Mengambil template global, lalu menghiasinya dengan “Kawung-Core”.
Putusan Akhir Investigasi

Poster 2014 ini adalah bukti telak di arsip mereka sendiri. Bukti bahwa institusi ini dulu mampu melahirkan bahasa visual yang orisinal, craft-based, dan konseptual. Mereka dulu adalah trendsetter.
Dan bukti ini membuat pilihan tim 2025 jadi terlihat… semakin efisien.
Tim 2025 tidak bisa lagi berkelit ‘ini zamannya’. Buktinya, 11 tahun lalu, angkatan sebelumnya tidak ikut-ikutan trend. Mereka menciptakan trend mereka sendiri.
Jadi, tim 2025 tidak mengulang 2014. Mereka memilih jalur yang sangat berbeda dari legacy konseptual 2014.
Mereka menukar “orisinalitas yang chaotic” (2014) dengan “efisiensi template yang rapi” (2025). Dan ini, bagi sebuah institusi yang kita anggap sebagai ‘mercusuar’, adalah sebuah pergeseran prioritas—dari penciptaan konseptual menjadi eksekusi komersial.
## FAQ **Q: Apa itu pendekatan “Kawung-Core” dalam desain?** A: “Kawung-Core” adalah istilah untuk menggambarkan praktik menempelkan ornamen lokal (seperti motif kawung) pada template desain global tanpa sintesis filosofis yang mendalam.
**Q: Mengapa desain 2014 dianggap lebih orisinal?** A: Desain 2014 menggunakan pendekatan craft-driven dengan ilustrasi custom, tipografi hand-drawn, dan sintesis konseptual yang menciptakan bahasa visual baru.
**Q: Apa dampak pergeseran ini bagi dunia desain Indonesia?** A: Pergeseran dari trendsetter menjadi trend follower dapat mempengaruhi reputasi ITB sebagai “mercusuar” desain Indonesia.
Disclaimer visualis.id:
Artikel ini adalah murni analisis kritis dan investigasi visual dari visualis.id terhadap branding Pasar Seni ITB 2025. Opini, satir (“Kawung-Core”, “infused water”), dan perbandingan historis di dalamnya adalah sudut pandang subjektif kami untuk “menguliti” fenomena desain yang kami amati.
Fokus kritik kami adalah pada strategi visual dan output desain yang dipublikasikan, bukan pada kerja keras individu atau panitia di baliknya. Kami mengapresiasi kesuksesan acara tersebut. Analisis ini bertujuan memicu diskusi konstruktif tentang orisinalitas, tren global vs. identitas lokal, dan evolusi konseptual dalam pendidikan dan praktik DKV di Indonesia. Anggap ini sebagai ajakan berpikir, bukan penghakiman final.
@itbpasarseni
#PasarSeniITB #DesainIndonesia #KritikDesain