Redaksi Visualis.id
Permintaan komputasi untuk melatih dan menjalankan model AI generatif terus meningkat, dan itu meningkatkan kebutuhan pendinginan pusat data yang di banyak lokasi, termasuk di Indonesia, bergantung pada air tawar. Pertanyaannya bukan “apakah AI butuh air”, melainkan: siapa yang kebagian lebih dulu ketika air itu terbatas server, atau rumah tangga di sekitarnya?
Dulu Kita Pikir “Cloud” Itu Tanpa Jejak Fisik
Pernah nggak Anda membayangkan “cloud” itu benar-benar berupa awan sesuatu yang mengambang, tanpa berat, tanpa jejak fisik?
Faktanya, di balik istilah seputih kapas itu ada gedung-gedung berisi ribuan unit prosesor yang bekerja nonstop. Prosesor itu menghasilkan panas dalam jumlah besar, dan salah satu cara paling umum untuk mendinginkannya dalam skala industri adalah sistem pendingin berbasis air.
Riset Shaolei Ren dan koleganya dari University of California, Riverside, dalam makalah “Making AI Less Thirsty” (2023), menyoroti jejak air dari proses pelatihan dan penggunaan model AI generatif skala besar. Riset ini penting sebagai titik awal kesadaran publik, tapi perlu kami garis bawahi: besarnya konsumsi air sangat bergantung pada lokasi data center, iklim setempat, jenis teknologi pendingin yang dipakai, sumber listriknya, dan apakah air tersebut bersifat consumptive (menguap dan hilang) atau hanya dipakai lalu dikembalikan ke sistem.
Dengan kata lain: tidak setiap prompt yang Anda ketik secara langsung “meminum” air dari waduk tertentu. Yang benar adalah, akumulasi permintaan dalam skala masif menciptakan kebutuhan infrastruktur pendingin yang, pada gilirannya, menambah tekanan pada sistem air di lokasi tempat data center itu berdiri.(Sumber: Ren, S. et al., “Making AI Less Thirsty,” UC Riverside, 2023 )
Jatiluhur: Proyeksi Kapasitas Penuh, Bukan Konsumsi Hari Ini
Di Purwakarta, Jawa Barat, proyek bernama AI Campus 2 yang dikembangkan BDx Data Centers dilaporkan bernilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. Proyeksi kebutuhan air pendinginnya mencapai 384 liter per detik, atau setara sekitar 33 juta liter per hari.
Perlu kami tegaskan: angka ini adalah proyeksi untuk tahap pengembangan/kapasitas penuh, bukan volume air yang sudah dikonsumsi saat ini. Proyek ini sendiri dilaporkan sempat dihentikan sementara karena dokumen AMDAL dan PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) belum lengkap sebagaimana disampaikan Gubernur Jawa Barat dalam pernyataan publik terkait proyek ini.
Kami juga perlu meralat kesan yang mungkin muncul dari framing sebelumnya: BDx tidak mengambil air langsung dari Waduk Jatiluhur atau dari Perum Jasa Tirta II (PJT II) selaku pengelola waduk. Berdasarkan pernyataan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kebutuhan air fasilitas ini direncanakan dipenuhi melalui PDAM Purwakarta, di mana BDx berstatus sebagai pelanggan komersial bukan pihak yang menyedot langsung dari badan air.
Ini tidak serta-merta menghilangkan persoalannya. PDAM Purwakarta sendiri mendapat alokasi air baku dari sistem yang terhubung ke Waduk Jatiluhur sistem yang sama yang juga melayani kebutuhan rumah tangga dan irigasi pertanian di wilayah ini. Jadi pertanyaan yang lebih tepat bukan “apakah BDx menyedot waduk secara langsung”, melainkan: ketika permintaan komersial terhadap PDAM meningkat signifikan, apakah alokasi untuk domestik dan irigasi tetap aman terutama saat proyek ini benar-benar beroperasi penuh?
(Sumber: pemberitaan nasional mengenai nilai investasi dan penghentian sementara proyek BDx di Jatiluhur, serta pernyataan Pemprov Jabar soal jalur PDAM.)
Batam: Dua Angka yang Sering Tertukar
Ada kesalahan presisi yang perlu kami luruskan di sini juga.
Berdasarkan data BP Batam yang dikutip Katadata, proyeksi kebutuhan air untuk sembilan data center di Nongsa Digital Park diperkirakan mencapai sekitar 29 juta liter per hari pada 2032. Jika ditambah fasilitas lain di Batam termasuk proyek NeutraDC-Nxera sehingga totalnya menjadi sepuluh data center, angka gabungannya naik menjadi sekitar 32 juta liter per hari.
Jadi, “32 juta liter” bukan representasi Nongsa saja, melainkan total seluruh Batam. Perbedaan ini kecil di atas kertas, tapi penting untuk akurasi terutama karena BBC pernah melaporkan proyeksi kebutuhan ini setara 6–16% dari kapasitas produksi air Batam, sebuah porsi yang signifikan untuk pulau yang sumber airnya terbatas.
Soal karakter sumber air Batam sendiri yang kerap disebut mengandalkan waduk tadah hujan tanpa aliran sungai besar sebagai cadangan kami perlu akui bahwa klaim ini idealnya dirujuk ke sumber primer seperti BP Batam atau Perumda Air Batam, bukan sekadar pemberitaan sekunder yang mengulang-ulang karakterisasi tersebut. Kami mencantumkannya di sini sebagai konteks yang masih memerlukan verifikasi lebih kuat.
(Sumber: data BP Batam via Katadata mengenai proyeksi kebutuhan air data center 2032; laporan BBC mengenai persentase kapasitas produksi air Batam.)
Dunia Lain, Skrip yang (Mirip, Tapi Tidak Sama)
Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi pertanyaan ini. Tapi penting bagi kami untuk tidak buru-buru menyamakan semua kasus seolah mengikuti naskah yang identik karena mekanisme hukum, sumber air, dan respons pemerintahnya ternyata cukup berbeda satu sama lain.
Uruguay, 2023. Saat negara ini mengalami kekeringan parah hingga pemerintah sempat mencampur air limbah ke pasokan air minum Montevideo, rencana Google membangun data center di Canelones memicu gerakan protes bertajuk “Uruguay sin agua para Google.” Rencana awal proyek ini disebut memerlukan sekitar 7,6 juta liter air minum per hari.
(Sumber: liputan Reuters dan media internasional lain mengenai protes data center Google di Uruguay, 2023.)
Chile, 2024. Pengadilan lingkungan Chile mencabut sebagian izin proyek data center Google di Cerrillos, Santiago, pada Februari 2024, di tengah kekhawatiran publik terkait megadrought yang telah melanda negara ini lebih dari satu dekade. Google kemudian menyatakan akan memulai ulang proses perizinan dengan beralih ke teknologi pendingin berbasis udara (air-cooled), bukan lagi mengandalkan air sebagai media pendingin utama.
(Sumber: pemberitaan Reuters/Bloomberg mengenai pencabutan izin dan perubahan desain pendingin Google di Chile, 2024.)
The Dalles, Oregon, Amerika Serikat. Di sinilah kami perlu meralat kesalahan paling jelas dari versi sebelumnya. Bukan The Oregonian yang menggugat, melainkan Kota The Dalles yang menggugat The Oregonian/OregonLive untuk mencegah pelepasan dokumen penggunaan air oleh Google. Setelah proses hukum berjalan, gugatan kota itu kalah, dan data konsumsi air Google akhirnya terbuka ke publik mengungkap bahwa fasilitas tersebut mengonsumsi air dalam proporsi yang signifikan dibandingkan skala kota sekecil itu. Kami sengaja tidak mencantumkan angka persentase tertentu di sini karena angka yang pernah beredar merujuk pada tahun dan definisi pengukuran spesifik yang perlu diverifikasi ulang sebelum dikutip.
(Sumber: liputan investigatif OregonLive/The Oregonian mengenai gugatan Kota The Dalles dan keterbukaan data penggunaan air Google.)
Memphis, Tennessee, Amerika Serikat, 2024. Superkomputer “Colossus” milik xAI dilaporkan mengoperasikan puluhan turbin gas di kawasan Southwest Memphis. Southern Environmental Law Center (SELC) bersama kelompok lokal menuduh sebagian turbin tersebut beroperasi tanpa izin pra-konstruksi/operasi yang memadai, serta mempertanyakan dampaknya terhadap kualitas udara di wilayah ini. Perlu kami catat: xAI dan sejumlah pejabat setempat menyebut sebagian instalasi bersifat sementara dan menggunakan pengecualian regulasi tertentu sehingga status hukumnya masih berupa sengketa yang belum final, bukan temuan pelanggaran yang sudah diputus. Soal karakter demografis Southwest Memphis sebagai wilayah yang kerap dikaitkan dengan isu keadilan lingkungan, klaim ini idealnya dirujuk langsung ke data sensus AS sebelum dijadikan premis argumen, bukan sekadar diasumsikan dari pemberitaan.
(Sumber: liputan The Guardian dan platform jurnalisme lokal MLK50 mengenai proyek Colossus xAI di Memphis, 2024; tuduhan SELC soal izin turbin gas.)
Irlandia, 2022–2024. Menurut Central Statistics Office (CSO) Irlandia, data center di negara ini mengonsumsi sekitar 21% dari total konsumsi listrik nasional pada 2023, meningkat menjadi sekitar 22% pada 2024. Operator jaringan listrik EirGrid memberlakukan pembatasan koneksi data center baru di kawasan Dublin sejak 2022, yang dilaporkan akan berlaku hingga 2028 bukan sekadar moratorium sementara dan tidak jelas durasinya, melainkan kebijakan dengan rentang waktu yang cukup panjang dan terukur.
(Sumber: data resmi CSO Ireland mengenai konsumsi listrik data center 2023–2024; kebijakan pembatasan EirGrid.)
Dari kelima kasus ini, ada benang merah yang masuk akal untuk dicatat: proyek data center skala besar kerap memicu pertanyaan publik soal prioritas alokasi sumber daya dasar. Tapi kami perlu jujur bahwa ini bukan skrip yang identik Uruguay soal air minum langsung, Chile soal revisi desain pendingin pasca-tekanan hukum, Oregon soal transparansi data lewat jalur pengadilan, Memphis soal status perizinan emisi yang masih disengketakan, dan Irlandia soal listrik, bukan air. Menyamaratakan kelimanya sebagai “pola yang nyaris identik” akan menyederhanakan persoalan yang sebenarnya punya konteks hukum dan teknis berbeda-beda di setiap negara.
Apakah Indonesia sedang menuju arah serupa? Kami kira lebih tepat mengatakan Indonesia tampak memasuki fase yang punya kemiripan gejala proyek besar, kekhawatiran warga, proses perizinan yang masih berjalan ketimbang mengklaim kita sedang mengikuti “skrip yang sama persis”, mengingat kerangka regulasi dan tata kelola air di Indonesia punya karakteristiknya sendiri.
Soal “Siapa yang Untung” Ini Masih Hipotesis, Bukan Temuan
Ada godaan untuk menyimpulkan bahwa nilai ekonomi tertinggi dari proyek semacam ini kepemilikan algoritma, hak cipta model AI, keuntungan jangka panjang otomatis “terbang” ke luar negeri sementara daerah hanya menanggung beban fisik.
Argumen ini masuk akal secara struktural, dan pola semacam ini memang terdokumentasi dalam berbagai studi tentang investasi infrastruktur digital global. Tapi kami perlu jujur: klaim spesifik soal struktur kepemilikan BDx, skema kontrak sewa/colocation yang mereka jalankan, atau seberapa besar nilai ekonomi yang benar-benar menetap di Indonesia belum kami verifikasi dengan data primer. Tanpa itu, pernyataan semacam ini lebih tepat didudukkan sebagai hipotesis yang layak ditelusuri lebih lanjut, bukan temuan yang sudah final.
Pelajaran dari Balong Dalem
Ada perbandingan yang menarik, meski perlu kami perlakukan sebagai analogi bukan kesetaraan kasus dengan tulisan kami sebelumnya tentang tujuh desa di Kuningan yang berbagi air dari kawasan Balong Dalem tanpa pernah berkonflik
Di sana, air dikelola lewat kesepakatan yang dijaga generasi demi generasi, dengan pemahaman bersama bahwa sumber daya ini terbatas dan harus dibagi secara adil sejak awal bukan direvisi setelah protes. Pertanyaan yang layak diajukan bukan “kenapa proyek data center tidak seperti desa adat”, melainkan: seberapa awal pertimbangan dampak terhadap warga sekitar dilibatkan dalam proses perencanaan proyek-proyek infrastruktur digital ini sebelum izin lengkap, bukan sesudah ada yang protes.
Jadi, Pertanyaan yang Tersisa
Kami tidak anti-AI, dan kami tidak sedang memvonis BDx, Google, xAI, atau perusahaan mana pun sebagai pihak yang sudah terbukti bersalah. Sebagian status hukum dalam kasus-kasus di atas terutama Memphis masih berupa sengketa yang belum final.
Yang ingin kami ajak renungkan adalah pertanyaan yang lebih sederhana dan lebih jujur dari sekadar mencari pihak yang salah: ketika proyek infrastruktur digital bersaing dengan kebutuhan dasar warga atas air dan listrik, pada tahap perencanaan mana seharusnya kepentingan warga itu mulai dipertimbangkan dan siapa yang bertanggung jawab memastikan itu terjadi sejak awal, bukan setelah proyek berjalan?
FAQ
Apakah setiap penggunaan AI generatif langsung mengambil air dari waduk tertentu?
Tidak secara langsung. Konsumsi air terjadi pada sistem pendinginan pusat data secara agregat, bukan per-prompt individual. Besarnya bergantung pada lokasi, iklim, teknologi pendingin, dan sumber listrik data center tersebut.
Apakah BDx mengambil air langsung dari Waduk Jatiluhur?
Berdasarkan pernyataan Pemprov Jawa Barat, tidak. Kebutuhan air proyek direncanakan dipenuhi melalui PDAM Purwakarta, yang mendapat alokasi air baku dari sistem terkait Waduk Jatiluhur.
Apakah angka 384 liter/detik di Jatiluhur adalah konsumsi air saat ini?
Bukan. Angka tersebut merupakan proyeksi kebutuhan pada tahap pengembangan/kapasitas penuh proyek, yang dilaporkan sempat dihentikan sementara karena dokumen AMDAL dan PBG belum lengkap.
Berapa sebenarnya kebutuhan air data center di Batam?
Sembilan data center di Nongsa Digital Park diproyeksikan membutuhkan sekitar 29 juta liter/hari pada 2032. Jika ditambah fasilitas lain hingga total sepuluh data center di Batam, angkanya menjadi sekitar 32 juta liter/hari.
Siapa yang menggugat siapa dalam kasus The Dalles, Oregon?
Kota The Dalles menggugat The Oregonian/OregonLive untuk mencegah pelepasan data penggunaan air Google. Kota tersebut kalah dalam gugatan, dan data akhirnya dibuka ke publik.
Apakah xAI terbukti melanggar izin emisi di Memphis?
Belum ada putusan final. SELC dan kelompok lokal menuduh sebagian turbin gas beroperasi tanpa izin memadai, sementara xAI menyatakan sebagian instalasi bersifat sementara dan menggunakan pengecualian regulasi. Status ini masih berupa sengketa.
Berapa persen listrik nasional Irlandia dikonsumsi data center?
Menurut CSO Ireland, sekitar 21% pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 22% pada 2024.