Lewati ke konten
Culture + Lifestyle

Melawan Estetika Mulus Midjourney: Mengapa Spanduk Pecel Lele Lebih Menjual daripada Desain AI

Secara teknis, spanduk pecel lele itu salah di hampir setiap parameter desain. Tapi setiap malam, kursi di bawahnya penuh. Dr. Yully Ambarsih menelaah mengapa "ketidaksempurnaan" lokal lebih dipercaya daripada kemulusan AI dan apa yang kita pertaruhkan kalau melupakannya. 🍤

Dr. Yully Ambarsih Ekawardhani, M.Sn
07 June 2026  ·  5 menit baca

Melawan Estetika Mulus Midjourney: Mengapa Spanduk Pecel Lele Lebih Menjual daripada Desain AI

Ada sebuah spanduk yang sudah lama saya amati di sudut jalan dekat rumah. Spanduk MMT sebuah warung pecel lele: gradasi biru-ke-kuning yang menyala terlalu terang, foto lele goreng yang diambil sedikit miring, nomor WhatsApp dengan angka berukuran tak konsisten, dan satu kata”MURAH!”dicetak dalam font yang, kalau dinilai di ruang kelas tipografi mana pun, akan langsung gugur. Secara akademis, spanduk itu salah di hampir setiap parameter. Namun setiap malam, di bawahnya, kursi-kursi plastik penuh.

Saya tertarik bukan pada kesalahannya, melainkan pada keberhasilannya. Sebab di situ ada paradoks yang layak ditelaah secara serius: sebuah objek visual yang melanggar nyaris semua kaidah desain “baik”, tetapi bekerja jauh lebih efektif ketimbang banyak karya yang secara teknis sempurna. Pertanyaannya bukan “mengapa ini jelek”, melainkan “mengapa ini berhasil” dan apa yang akan hilang ketika kecerdasan buatan, dengan estetikanya yang serba mulus, mulai menggantikannya.

Dua Tata Bahasa Visual

Untuk membahas ini secara jernih, izinkan saya membedakan dua tata bahasa visual yang kini saling berhadapan.

Yang pertama saya sebut AI Polish: estetika keluaran mesin generatif. Ia mulus, simetris, dengan pencahayaan sinematik, kulit tanpa pori, dan komposisi yang diakui atau tidak condong kebarat-baratan atau bergaya anime. Ia indah dalam pengertian yang generik; indah seperti kamar hotel berbintang yang sama di kota mana pun di dunia.

Yang kedua adalah Lokal Kitsch: estetika jalanan Indonesia. Spanduk pecel lele, poster dangdutan dengan efek lens flare berlebih, baliho caleg dengan senyum yang di-retouch terlalu keras, neon box bertumpuk di muka ruko. Dalam kerangka kajian budaya, istilah kitsch memang lama berkonotasi merendahkan seni massal yang sentimental, dianggap selera rendah sejak perdebatan modernisme. Namun saya ingin menahan penghakiman itu. Sebab yang kita sebut “kitsch” di sini sesungguhnya adalah sebentuk bahasa rupa vernakular: estetika yang tumbuh organik dari masyarakat, oleh tangan-tangan yang tidak terlatih secara formal, untuk audiens yang sangat spesifik dan sangat dipahami.

Satu lahir dari kumpulan data global. Satu lahir dari pengalaman hidup di sebuah gang.

Mengapa yang “Tidak Sempurna” Justru Dipercaya

Argumen saya sederhana: ketidaksempurnaan itu bukan kekurangan, melainkan penanda. Dalam pembacaan semiotik, setiap elemen yang tampak “salah” pada spanduk warung sebetulnya mengirim pesan yang sangat tepat kepada audiensnya.

Warna yang menyala berkata: saya mudah terlihat, bahkan dari motor yang melaju. Font yang besar dan kasar berkata: saya tidak jaim, saya untuk semua orang. Foto makanan yang apa adanya berkata: inilah yang benar-benar akan kamu terima, bukan janji yang dipercantik. Dan justru pada keseluruhan ketidaksempurnaan itu, terbangun sesuatu yang paling sulit direkayasa: kepercayaan dan kedekatan. Spanduk itu terasa dibuat oleh seseorang yang seperti kita, untuk kita, di tempat kita berada.

Bandingkan dengan visual AI Polish yang sempurna. Bagi konsumen sub-urban, kemuluson itu kerap justru menimbulkan jarak terasa mahal, terasa “bukan untuk saya”, bahkan terasa mencurigakan. Ada ironi yang elegan di sini: semakin sempurna sebuah gambar, semakin ia kehilangan tanda-tanda kemanusiaan yang membuat orang merasa dilibatkan. Kesempurnaan, dalam konteks yang keliru, adalah bentuk keterasingan.

Erosi yang Berlangsung Diam-Diam

Kekhawatiran saya bersifat kultural, bukan teknis. Ketika pelaku usaha kecil dan agensi mulai menyerahkan produksi visual sepenuhnya kepada AI demi efisiensi, yang terjadi bukan sekadar perubahan gaya, melainkan penyeragaman.

Estetika jalanan Indonesia adalah arsip visual yang hidup rekaman selera, humor, dan cara berkomunikasi sebuah masyarakat pada zamannya. Ia setara, dalam nilai dokumentasinya, dengan ragam hias tradisional yang kita banggakan di museum, hanya saja ia masih berdebu di pinggir jalan dan belum sempat kita hormati. Ketika algoritma global yang dilatih dari korpus yang didominasi citra Barat menjadi juru gambar tunggal, kosakata visual lokal ini perlahan terdesak. Bukan dilarang, bukan dihancurkan; hanya pelan-pelan tidak lagi diproduksi, hingga suatu hari terlupakan.

Menariknya, dunia justru sedang bergerak ke arah sebaliknya. Laporan tren Adobe untuk 2026 mencatat kebangkitan apresiasi terhadap yang analog, bertekstur, dan tidak sempurna sebuah kejenuhan global terhadap kemuluson AI, sekaligus kerinduan pada cita rasa lokal yang otentik. Dengan kata lain, sementара sebagian pelaku lokal terburu-buru meninggalkan estetika jalanannya demi terlihat “modern”, pasar global justru mulai memburu persis kualitas yang sedang kita tinggalkan itu. Kita berisiko membuang harta karun tepat ketika orang lain menyadari nilainya.

Tugas Baru bagi Desainer dan Agensi

Dari pengamatan ini, saya tidak hendak menarik kesimpulan yang romantis seolah segala yang vernakular otomatis luhur, atau seolah AI adalah musuh. Keduanya akan menjadi penyederhanaan yang malas.

Yang saya usulkan lebih cermat: desainer masa kini perlu memiliki literasi vernakular. Yakni kemampuan membaca, menghormati, dan bila perlu mempertahankan secara sengaja elemen ketidaksempurnaan lokal, bukan karena tidak mampu membuatnya mulus, melainkan karena paham bahwa kemuluson akan memutus koneksi dengan target pasar tertentu. Ini bukan soal sengaja membuat desain jelek. Ini soal ketepatan kultural: memilih kosakata visual yang paling dimengerti oleh orang yang ingin kita ajak bicara.

Bagi agensi, ini bahkan punya nilai strategis. Di tengah lautan visual AI yang seragam, justru kefasihan terhadap estetika lokal yang otentik menjadi pembeda yang tidak bisa diunduh kompetitor mana pun. AI dapat meniru permukaan; ia tidak dapat meniru pemahaman tentang mengapa permukaan itu bermakna bagi sebuah komunitas.

Penutup

Saya tidak menulis ini untuk membela spanduk pecel lele sebagai puncak estetika. Saya menulisnya karena spanduk itu mengajarkan sesuatu yang sering luput dari ruang kuliah desain: bahwa efektivitas visual tidak pernah lahir dari kesempurnaan teknis semata, melainkan dari kedekatannya dengan manusia yang dituju.

Kecerdasan buatan memberi kita kemampuan membuat apa pun tampak sempurna. Tantangan kita justru kebalikannya memiliki kebijaksanaan untuk tahu kapan kesempurnaan itu tidak diperlukan, bahkan merugikan. Sebab pada akhirnya, desain yang baik bukanlah desain yang paling halus, melainkan desain yang paling jujur berbicara dalam bahasa orang yang membacanya.

Dan untuk sebagian besar masyarakat kita, bahasa itu masih terbaca paling jelas di bawah cahaya spanduk yang sedikit terlalu terang, di antara kursi-kursi plastik yang, malam ini pun, kembali penuh.


Catatan: tulisan ini merupakan esai kajian budaya visual. Rujukan tren global merujuk pada laporan Adobe Creative Trends 2026 mengenai kebangkitan estetika otentik dan ketidaksempurnaan.

Tag: ai aigenerate budaya cultur Midjourney
Artikel ini bermanfaat? Bagikan.
X / Twitter LinkedIn WhatsApp
Penulis
Dr. Yully Ambarsih Ekawardhani, M.Sn
Kontributor Visualis — platform pengetahuan desain, AI, dan industri kreatif Indonesia.

Artikel Terkait

Punya perspektif lain tentang topik ini?

Tulis di Visualis dan jangkau ribuan pembaca yang tepat.

Tulis Artikel
← Sebelumnya
Sensor vs Kreativitas: Memagari Kanvas Digital Indonesia dari Penjarahan Estetika AI
Berikutnya →
Kematian SEO: Mengapa Agensi Kreatif Indonesia Harus Pindah ke GEO Sekarang

Login untuk meninggalkan komentar dan berdiskusi dengan penulis.

WhatsApp