Beberapa minggu lalu, di sebuah punggungan bukit tak jauh dari Lembang, saya menyaksikan sesuatu yang sejak itu tak mau pergi dari kepala saya. Serombongan anak muda baru saja menuntaskan pendakian pendek wajah masih merah, napas masih tersengal. Tetapi sebelum seorang pun sempat menghirup udara yang katanya mereka cari-cari itu, telepon genggam sudah lebih dulu terangkat. Bukan untuk menelepon. Untuk mencari sudut. Matahari pagi, kabut yang menggantung, siluet semuanya disusun dengan ketelitian yang nyaris liturgis. Baru setelah foto “dapat”, mereka duduk, dan untuk pertama kalinya benar-benar memandang lembah di bawah.
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi mereka. Sungguh. Justru sebaliknya: ada sesuatu yang menyentuh sekaligus mengganjal dalam pemandangan itu. Sesuatu yang menurut saya tidak bisa dijelaskan dengan kata “munafik”, dan terlalu mudah kalau kita berhenti di situ. Sebab yang saya saksikan di bukit itu bukan kepalsuan seorang anak muda. Itu adalah sebuah pertunjukan—lengkap dengan panggung, naskah, penonton, dan penata cahaya yang nyaris tak seorang pun di antara mereka pernah benar-benar memilih untuk ikut bermain.
Lari dari Kota, dengan Sinyal yang Tetap Penuh
Tren itu sudah jadi semacam pengakuan iman bersama: Gen Z lelah pada kota, lelah pada hiruk-pikuk, lelah pada layar. Maka mereka pergi ke desa, ke kebun, ke jalur pendakian. Mereka menyebutnya slow living, healing, kembali ke yang sederhana. Dan saya percaya kelelahan itu nyata—ada kecemasan tulus di baliknya yang tak pantas ditertawakan.
Hanya saja, perhatikan ironinya yang halus. Mereka melarikan diri dari kecepatan, tetapi membawa serta seluruh infrastruktur kecepatan itu di dalam saku. Slow travel dengan kecepatan internet. Dan ketika mereka memilih tujuan, alasannya pun jarang benar-benar soal tempatnya. Orang pergi ke Belitung bukan karena rupa alamnya, melainkan karena di sanalah dulu Laskar Pelangi diambil gambarnya. Destinasi itu sudah Instagrammable di kepala mereka jauh sebelum kaki menyentuh pasirnya.
Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya menarik bagi kita yang bekerja dengan rupa: ketika pengalaman “otentik” sudah lebih dulu dikurasi dari linimasa orang lain ketika kita tahu persis seperti apa rasa yang seharusnya, bahkan sebelum merasakannya apa yang tersisa untuk disebut otentik? Keaslian itu, anehnya, datang dengan panduan gaya.
Nongkrong Sehat, atau Penghematan yang Dikemas Jadi Nilai
Lalu ada pergeseran cara berkumpul. Komunitas lari, mendaki, berkebun bersama, bersih-bersih pantai, piknik di taman kota. Sehat, sosial, peduli lingkungan paket nilai yang rapi dan terhormat. Brand berebut menerjemahkannya, ruang-ruang berlomba menyediakannya.
Tapi izinkan saya menarik tirai sedikit ke belakang panggung. Sebagian besar dari pergeseran ini, kalau kita jujur, bukan semata-mata kebangkitan kesadaran. Ia juga ekonomi. Nongkrong di kafe mahal butuh uang yang tak semua orang punya; mendaki bukit, pada dasarnya, gratis. Yang terjadi kemudian adalah sebuah alkimia sosial yang menarik untuk diamati: keterbatasan diolah menjadi keutamaan. “Aku tidak punya uang untuk kafe” diterjemahkan dengan elegan, nyaris tanpa terasa menjadi “aku memilih gaya hidup yang sadar lingkungan dan sehat”.
Saya tidak mengatakan ini buruk. Mengubah kendala menjadi makna adalah salah satu kecerdasan paling tua umat manusia. Tetapi sebagai pengamat budaya rupa, saya tertarik pada lapisan keduanya: begitu penghematan menjadi nilai, ia menuntut tampilan. Ia harus terlihat. Estetika “nongkrong sehat” pun lahir dan estetika, kita tahu, tidak pernah netral.
Ruang yang Tak Boleh Cuma Satu Hal
Tengoklah ledakan creative space di Bandung, Jakarta, Jogja. Itu bukan kebetulan. Itu jawaban arsitektural atas tuntutan generasi yang ruangnya tak boleh lagi cuma satu hal. Ruang harus bisa menjadi tempat kerja sekaligus tempat nongkrong, tempat belajar sekaligus tempat berjejaring dan, di atas segalanya, harus bagus untuk difoto.
Inilah yang menurut saya patut menjadi tanda seru bagi para desainer. Batas antara waktu senggang dan waktu kerja runtuh; work-life integration bukan lagi pilihan, melainkan udara yang mereka hirup. Maka ruang pun tak diizinkan beristirahat sebagai ruang. Bahkan rehat harus produktif. Bahkan duduk diam harus terdokumentasi. Sofa empuk itu nyaman, tentu tetapi pertama-tama ia harus fotogenik. Dinding itu menenangkan, ya tetapi terutama ia harus menjadi latar yang bagus.
Kita merancang ruang, dan diam-diam kita merancang panggung.
Tiga Warna, Tiga Kecemasan
Mari ambil contoh yang paling kasatmata: warna. Sejak Indonesia resmi menjadi anggota ke-17 Intercolor lembaga yang sejak 1963 menjadi forum para pakar warna lintas industri tren warna global makin terasa dekat dengan kita. Untuk 2026, kongres itu menawarkan beberapa tema. Tetapi bacalah tema-tema itu bukan sebagai palet, melainkan sebagai potret batin sebuah generasi.
Ada Micro Happiness: Apricot, Lilac, Coral warna lembut dan riang. Terjemahannya kira-kira: “hidup berat, maka aku rayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil.” Ada Solastalgia: palet alam yang sendu, Pebble, Glacier warna yang merindukan bumi yang sedang kita kehilangan. Terjemahannya: “alam sedang rusak, dan aku berduka untuk yang belum sepenuhnya hilang.” Lalu warna-warna berani yang lebih tegas, sikap menerima dunia yang memang tak akan pernah rapi.
Perhatikan: ketiganya bukan sekadar pilihan rasa. Ketiganya adalah mekanisme bertahan kecemasan yang dikemas menjadi tren, terapi yang menyamar sebagai estetika. Warna, di tangan generasi yang gelisah, berhenti menjadi hiasan dan berubah menjadi obat. Dan ketika sebuah generasi memilih warnanya berdasarkan luka yang ingin ia tenangkan, tugas kita sebagai perancang menjadi jauh lebih berat daripada sekadar “memilih yang sedang ngetren”.
Panggung yang Tak Pernah Kita Pilih
Sekarang saya bisa kembali ke bukit di Lembang itu, dan menamai apa yang saya saksikan: sebuah teater keaslian.
Anak-anak muda itu memainkan peran “pengalaman otentik” tetapi panggungnya sudah ditata oleh Instagram, naskahnya sudah ditulis oleh algoritma, dan penontonnya, ironisnya, bukan diri mereka sendiri, melainkan deretan pengikut yang wajahnya tak pernah mereka lihat. Mereka mendaki (pengalaman sejati), tapi fotonya wajib bagus (tuntutan estetik). Mereka berkumpul di ruang kreatif (semangat komunitas), tapi harus tetap produktif (pertunjukan kerja). Mereka memilih palet Solastalgia karena peduli bumi lalu, esoknya, membeli busana cepat-saji yang justru membebani bumi yang sama.
Sekali lagi, ini bukan kemunafikan. Kemunafikan mengandaikan ada pilihan yang dikhianati. Yang saya lihat di sini lebih tragis sekaligus lebih jujur: sebuah generasi yang diminta hidup otentik di dalam sistem yang setiap detiknya mengukur, membandingkan, dan menuntut bukti visual atas keaslian itu. Mereka tidak sedang berpura-pura. Mereka sedang berusaha jujur di atas panggung yang tak pernah mereka pilih, dengan lampu sorot yang tak bisa mereka matikan.
Penutup: Tugas Kita Bukan Menelanjangi Panggung
Lalu di mana posisi kita, para perancang, dalam semua ini?
Godaan pertama adalah sinis: membongkar teater itu, menunjuk jahitannya, lalu merasa lebih cerdas dari para pemainnya. Saya kira itu jalan yang malas, dan sedikit pengecut. Sebab kitalah lewat ruang yang kita rancang, warna yang kita pilihkan, kemasan dan tampilan yang kita susun yang ikut membangun panggung itu sejak awal. Menertawakan pertunjukan yang kita sendiri jadi penata panggungnya bukanlah kritik; itu cuci tangan.
Godaan kedua, yang lebih halus dan lebih berbahaya, adalah ikut larut: terus memproduksi rupa-rupa “keaslian” yang makin licin, makin terkurasi, makin jauh dari yang sungguh dirasakan sampai kata “otentik” itu sendiri kosong, tinggal cangkang.
Mungkin ada jalan ketiga, dan ini yang ingin saya tinggalkan. Rupa tidak harus selalu memuluskan; ia juga bisa menyingkapkan. Desain yang jujur pada zaman ini barangkali bukan desain yang berpura-pura panggungnya tidak ada, melainkan desain yang berani membiarkan jahitannya terlihat sedikit yang memberi ruang bagi ketegangan itu untuk bernapas, alih-alih menutupinya dengan satu lagi lapisan estetika yang sempurna.
Maka saya tutup dengan pertanyaan yang masih saya bawa pulang dari bukit itu, dan dengan senang hati saya titipkan kepada Anda: kalau setiap pelarian sudah ada panggungnya, setiap rehat ada penontonnya, dan setiap warna sudah jadi obat penenang apakah masih ada tempat tersisa, di mana seorang anak muda boleh menikmati sebuah pemandangan tanpa lebih dulu harus membuktikannya kepada siapa pun?