Sebuah kampus media dan seni paling prestisius di Beijing baru saja membuat keputusan yang seharusnya membuat kita desainer, pendidik, mahasiswa DKV Indonesia pause dan berpikir lebih dalam dari biasanya.
Communication University of China (CUC) menutup lima jurusan seni sekaligus pada 2025: fotografi, komik, desain komunikasi visual, seni media baru, dan desain fesyen. Bukan karena bangkrut. Bukan karena sepi peminat. Mereka tutup karena disengaja digantikan dengan program baru yang namanya terdengar lebih seperti divisi R&D sebuah tech company daripada jurusan seni. Rektor mereka bicara dengan nada seorang dokter yang baru selesai baca hasil lab: kompetensi fotografi tradisional sudah tidak relevan sebagai disiplin ilmu mandiri. Masa depan adalah kolaborasi manusia-mesin.
Sementara itu, di Indonesia, universitas masih massively membuka DKV baru setiap tahun dengan kurikulum yang, kalau kita jujur, masih banyak yang berbau aroma tahun 2010.
Apa yang China Hapus, dan Kenapa
Sebelum kita panik atau defensif, penting untuk memahami skala dari apa yang sedang terjadi.
Antara 2021 dan 2025, China menutup lebih dari 12.200 program studi di seluruh universitas negeri dan swasta. Di saat yang sama, mereka membuka 10.200 program baru. Lebih dari 30 persen program universitas China mengalami penyesuaian struktural, berdasarkan data Kementerian Pendidikan China yang dikutip Xinhua.
Ini bukan reformasi kurikulum semester genap yang biasa kita kenal di mana tim akreditasi datang, tanda tangan, pergi, lalu tidak ada yang berubah. Ini adalah triage nasional.
Bidang yang dihapus mengikuti pola yang konsisten: seni, humaniora, bahasa asing tertentu, manajemen konvensional. Bidang yang dibuka juga konsisten polanya: AI, data science, robotika, dan apa yang mereka sebut sebagai intelligent disciplines disiplin yang secara eksplisit dirancang untuk berkolaborasi dengan sistem mesin.
Sembilan universitas bahkan menambahkan jurusan baru di bidang embodied
intelligence, selaras dengan program nasional percepatan integrasi AI
generasi berikutnya ke dalam ekonomi riil.
Perlu dicatat: ini bukan tentang AI hype. Ini adalah structural economic assessment yang dingin dan kalkulatif. Kesimpulan resmi yang dibuat negara dengan 1,4 miliar penduduk dan aparatus perencanaan 10 tahun: disiplin-disiplin ini tidak sustainable
untuk future job market mereka.
Tiga Sinyal yang Harus Kita Baca
01 · China tidak bergerak karena ikut-ikutan tren
Mereka punya tradisi perencanaan yang tidak sentimental. Ketika sebuah disiplin diputuskan untuk ditutup di level nasional, itu berarti ada proses panjang di belakangnya market mapping, proyeksi tenaga kerja, analisis return on investment
pendidikan. Mereka tidak tutup jurusan karena seseorang di kementerian baru
baca artikel Medium tentang ChatGPT.
02 · Waktunya bukan kebetulan
China sedang menghadapi apa yang mereka akui secara terbuka sebagai krisis lapangan kerja yang serius lebih dari 16 persen pemuda China menganggur saat tingkat kelulusan universitas mencapai rekor tertinggi. Keputusan penutupan massal ini adalah pengakuan yang tidak nyaman: lulusan program-program tersebut sudah tidak punya pasar kerja yang cukup. Bayangkan rumah sakit yang akhirnya jujur bahwa obat yang mereka resepkan selama 10 tahun tidak bekerja.
03 · China tidak menghapus desain. Mereka me-reframe-nya.
Ini bagian yang paling penting dan paling sering salah dibaca. Tidak ada satu pun keputusan China yang mengatakan “desain tidak penting.” Yang mereka katakan adalah: desain sebagai independent discipline sebagai entitas yang berdiri sendiri dengan kurikulum, gelar, dan epistemologinya sendiri sudah tidak bisa lagi justify posisinya di era ini. Desain di China masa depan bukan lagi sebuah jurusan. Ia adalah sebuah skill subset yang terintegrasi ke dalam sistem yang lebih besar.
Tantangan Baru Kurikulum DKV Indonesia
Di sinilah satir dimulai.
Ketika China pivot agresif, Indonesia sedang sibuk dengan hal-hal berikut: menggodok RUU Desain Industri yang berusaha memperkuat desain sebagai aset ekonomi formal, membuka program DKV baru di berbagai kota dengan antusias, merayakan “ekonomi kreatif” sebagai solusi universal, dan mendiskusikan desain sebagai ekspresi budaya bangsa.
Sementara itu, China sudah selesai dengan semua diskusi itu. Mereka tidak debat apakah desain itu budaya atau bisnis. Mereka cukup tanya satu pertanyaan: apakah lulusan program ini masih bisa dapat kerja di 2030? Kalau jawabannya tidak atau tidak cukup tutup. Buka yang baru.
Indonesia masih memainkan permainan dari 2015. Permainan di mana “ekonomi kreatif” adalah mantra ajaib yang terasa seperti solusi, padahal sesungguhnya adalah penundaan dari pertanyaan yang lebih keras: desain untuk apa, dan untuk siapa, dalam ekonomi yang sedang berubah strukturnya?
Ada ironi yang menyakitkan di sini. China menutup jurusan DKV bukan karena mereka tidak menghargai desain melainkan justru karena mereka cukup serius dengan desain untuk mengakui bahwa cara lama mendidiknya sudah tidak memadai. Sementara kita masih merayakan pembukaan DKV baru sebagai tanda kemajuan.
Yang Seharusnya Kita Tanyakan
Ini bukan artikel yang berakhir dengan “maka dari itu, hapus semua DKV Indonesia.” Itu bukan poinnya, dan itu juga bukan jawaban yang benar.
Poinnya adalah ini: ketika negara dengan skala dan ambisi China memutuskan untuk secara struktural mereposisi desain dalam ekosistem pendidikannya, itu adalah sinyal yang tidak bisa kita baca sebagai urusan mereka saja.
Pertanyaannya bukan apakah DKV masih relevan. Pertanyaannya adalah: DKV yang seperti apa yang masih relevan? Dan itu pertanyaan yang, sejauh ini, masih belum cukup kita jawab dengan jujur.
● ● ●
Sumber Utama
Carol Yang, “China’s universities cut 12,000 ‘obsolete’ degrees
amid race to embrace AI era,” South China Morning Post, 14 Juni 2026.
Diakses Juni 2026.
https://www.scmp.com/economy/china-economy/article/3356913/…
Artikel ini adalah bagian dari seri Visualis tentang masa
depan pendidikan desain di Indonesia. · visualis.id