Lewati ke konten
Insights + Opinion

Murid Saya Sudah Punya Maestro. Celakanya, Itu Bukan Saya.

Murid Gen Z bukan generasi tanpa guru mereka justru punya maestro yang merender dalam 15 menit, gratis, dan tak pernah sekali pun mengecewakan mereka. Lalu untuk apa lagi seorang dosen? Didi Subandi berargumen: yang tersisa untuk dijual tinggal satu kata yang tak bisa digratiskan internet "tidak".

Didi Subandi
10 June 2026  ·  8 menit baca
X in wa

Setiap awal semester selalu sama. Saya masuk kelas, ambil spidol, lalu menulis satu kalimat di papan: Apa itu desain grafis? Belum sempat saya tutup spidolnya, sebuah tangan sudah terangkat. “Canva, Pak.” Yang lain menyusul, lebih yakin: “Desain yang bikin konten bagus di Instagram, Pak.”

Saya tersenyum. Bukan karena jawabannya salah justru karena tak ada yang salah. Itu yang bikin tengkuk saya dingin. Bertahun-tahun saya menulis pertanyaan yang sama di papan yang sama, dan tiap tahun jawabannya datang makin cepat. Makin cepat, dan makin kosong. Mereka tahu di mana desain dikerjakan. Mereka tahu dengan apa. Hanya satu yang tak seorang pun sebut: desain itu apa.

Kelas, izinkan saya jujur sejak menit pertama. Tulisan ini bukan keluhan dosen tua tentang “anak zaman sekarang”. Saya muak dengan genre itu. Ini pengakuan tentang hal yang jauh lebih tidak nyaman: bahwa saya, yang berdiri di depan kelas, sudah lama punya saingan. Dan saingan saya itu lebih sabar dari saya, jauh lebih murah dari saya, dan ini bagian yang menyakitkan tak pernah sekali pun mengecewakan murid saya.

Maestro yang Tak Pernah Bilang “Tidak”

Kita suka membayangkan murid Gen Z sebagai generasi tanpa guru. Otodidak, katanya. Belajar sendiri dari layar. Itu keliru. Mereka justru punya maestro maestro yang setia, yang tinggal di dalam saku, yang siap mengajar pukul tiga pagi sekalipun.

Maestro itu bernama tutorial lima belas menit. Ia membuka Photoshop, memilih font, menjatuhkan warna, menekan render, dan voila sebuah sampul buku jadi di depan mata. Ia tak pernah menyuruh murid mengulang. Tak pernah bertanya “kenapa”. Tak pernah berkata “ini belum jadi, coba lagi”. Dan tak pernah, sekalipun, memungut uang kuliah.

Bandingkan dengan saya. Saya bertanya “kenapa”. Saya menyuruh ulang. Saya bilang “belum”. Dari sudut pandang seorang mahasiswa yang lelah dan punya tenggat besok pagi, pertanyaannya sederhana: untuk apa datang ke kelas saya, kalau maestro di layar memberi hasil lebih cepat, lebih ramah, dan gratis?

Itu pertanyaan yang sah. Dan kalau saya menjawabnya dengan “karena saya dosen dan saya tahu lebih banyak” saya kalah. Sebab dalam hal tahu lebih banyak, YouTube sudah lama menang.

Resep Bisa Diikuti Siapa Saja—Sampai Bahannya Habis

Begini bedanya, kelas. Menonton seseorang membuat sampul buku selama lima belas menit itu mempelajari sebuah resep. Memahami mengapa sampul itu berhasil menyampaikan genre, menggiring suasana, memikat pembaca yang dituju itu mempelajari filosofi memasak.

Resep bisa diikuti siapa saja. Masalahnya baru muncul ketika bahannya habis. Ketika brief-nya tak ada di tutorial mana pun. Ketika klien minta sesuatu yang belum pernah di-render youtuber kesayangannya. Di titik itulah si juru masak resep tergagap karena ia tak pernah tahu mengapa garam ditaruh, ia hanya tahu berapa sendok. Sementara juru masak yang paham, ketika kehabisan satu bahan, bisa berimprovisasi. Sebab improvisasi hanya mungkin lahir dari pemahaman, bukan dari hafalan langkah.

Inilah yang saya lihat tiap semester: portofolio yang secara teknis memukau. Warna serasi, tipografi sesuai tren, rapi. Lalu saya tanya, “Kenapa kamu pilih warna ini?” Jawabannya nyaris selalu sama: “Bagus, Pak. Di Pinterest juga begitu.”

Sekali lagi ini bukan salah mereka. Mereka punya akses ke jutaan referensi, dua puluh empat jam, tanpa henti. Yang tak mereka punya adalah alat untuk menimbang referensi itu. Maka yang terjadi bukan belajar, melainkan menjiplak rasa tanpa logika di belakangnya.

Anak Sungai yang Tak Tahu Hulunya

Ada yang lebih dalam dari sekadar “tidak paham konsep”, dan ini bagian yang paling membuat saya gelisah. Murid-murid kita fasih berbahasa rupa yang tata bahasanya tak pernah mereka pelajari. Mereka memakai sesuatu yang punya sejarah panjang, dengan sikap seolah benda itu turun dari langit kemarin sore.

Coba ambil contoh paling sederhana: Helvetica. Lahir 1957, di sebuah pengecoran huruf di Swiss, anak kandung modernisme yang percaya pada bentuk yang objektif, bersih, universal. Huruf yang lahir dengan keyakinan ideologis. Tapi lihat ia sekarang dipakai untuk apa: gerai makanan cepat saji, logo korporat, mesin kapitalisme global. Maka ketika seorang mahasiswa memilih Helvetica, pertanyaannya bukan “bagus atau tidak”. Pertanyaannya: kamu sadar atau tidak sedang berbicara dengan suara siapa?

Begitu juga minimalisme yang mereka kejar membabi buta. Mereka kira itu pilihan rasa yang netral. Padahal tidak ada rupa yang netral, kelas. Minimalisme adalah sebuah sikap politis, historis, penuh muatan. Memilihnya tanpa tahu itu sama saja seperti mengutip kalimat orang dalam bahasa yang tak kita mengerti, lalu berharap maknanya kebetulan pas.

Murid Gen Z adalah penutur fasih yang menjadi yatim sejarah. Mereka anak sungai yang tak tahu di mana hulunya. Dan air yang tak kenal hulunya, gampang sekali dibelokkan ke mana saja oleh tren.

Percaya Diri yang Disetel ke Alat yang Salah

Lalu ada gejala yang lucu sekaligus serius: mereka percaya diri. “Ini bagus, Pak,” diucapkan dengan tulus, sementara desainnya masih bolong di mana-mana.

Saya tegaskan, ini bukan kesombongan. Ini soal kalibrasi. Organ pemeriksa mutu di dalam kepala mereka sudah lama dipindahtangankan dari penilaian sendiri, ke Pinterest. Ukurannya bukan lagi “apakah ini menjawab persoalan”, melainkan “apakah ini mirip dengan yang sedang naik di linimasa”. Mirip, berarti aman. Aman, berarti bagus. Begitu logikanya.

Mereka bukan kekurangan percaya diri. Mereka punya percaya diri yang disetel ke alat ukur yang salah dan itu jauh lebih sulit diperbaiki ketimbang sekadar ketidaktahuan.

Saingan Saya Gratis—dan Saya Bersyukur untuk Itu

Sekarang sampai pada pertanyaan yang seharusnya membuat tiap dosen desain tidak bisa tidur nyenyak: apa yang bisa saya tawarkan, yang nilainya lebih besar daripada tutorial gratis dan uang dari TikTok?

Sebab murid-murid kita sudah menghitung, dan mereka tidak bodoh. “Buat apa saya menyelam ke teori desain, kalau jadi micro-influencer penghasilannya lebih cepat?” Itu hitungan yang masuk akal di dunia yang lebih sering mencari pembuat konten yang bisa ngoding ketimbang desainer yang berpikir dalam.

Maka kalau saya bersikukuh menjual ilmu, saya menjual barang yang sudah gratis di mana-mana. Kalau saya menjual keterampilan teknis, saya bersaing dengan maestro lima belas menit dan kalah telak. Saya harus menjual sesuatu yang lain. Sesuatu yang justru tak bisa diberikan oleh layar mana pun, bukan karena layarnya bodoh, melainkan karena memberikannya akan menghancurkan model bisnis si layar.

Dan barang langka itu, kelas, ternyata sederhana sekali. Namanya: gesekan.

Hadiah yang Bernama “Tidak”

Pikirkan baik-baik. Seluruh dunia digital tempat murid kita tumbuh dibangun di atas satu prinsip: jangan pernah mengecewakan pengguna. Algoritma dirancang untuk selalu menyodorkan yang kita suka. Tutorial dirancang untuk selalu berakhir bahagia. Tombol like dirancang untuk memberi tepuk tangan instan. Tak ada satu pun bagian dari ekosistem itu yang berani berkata “tidak” sebab “tidak” mengusir pengguna, dan pengguna yang pergi adalah pendapatan yang hilang.

Hasilnya: lahir satu generasi yang nyaris tak pernah mendengar penolakan yang membangun. Yang tiap karyanya disambut jempol sebelum sempat dipertanyakan.

Di sinilah, akhirnya, saya menemukan alasan saya masih layak berdiri di depan kelas. Bukan untuk mengajar Photoshop maestro layar lebih jago dari saya. Bukan untuk membagi referensi—Pinterest lebih kaya dari saya. Saya ada di sana untuk menjadi, mungkin, satu-satunya suara dalam hidup mereka yang berani berkata “belum”. Yang bertanya “kenapa” sampai mereka tergagap. Yang menolak menerima file final tanpa melihat sketsa, kuyupnya proses, jejak salah arah dan perbaikannya karena desain itu pemecahan masalah, bukan kontes kecantikan.

Semua yang selama ini kita sebut “metode mengajar yang baik” sebenarnya bisa diringkas jadi satu kata itu. Mewajibkan proses, bukan cuma hasil? Itu “tidak” terhadap budaya jadi-instan. Mengajari mereka menimbang referensi, bukan menjiplaknya? Itu “tidak” terhadap mengutip tanpa mengerti. Menggali silsilah Helvetica? Itu “tidak” terhadap kefasihan yang buta sejarah. Penolakan yang terarah itulah satu-satunya kurikulum yang tak bisa diunduh gratis.

Tentu, “tidak” harus diberikan dengan benar. Bukan “tidak” seorang dosen rindu masa lalu yang menyuruh semua kembali ke pensil dan penggaris itu cuma keangkuhan yang menyamar jadi prinsip. Mereka penutur asli teknologi; menyuruh mereka mundur ke zaman analog penuh adalah omong kosong orang yang lupa diri. “Tidak” yang saya maksud bukan menyingkirkan kemahiran mereka, melainkan menambahkan satu lapisan yang selama ini tak pernah ada: lapisan mengapa.

Penutup: Keberanian untuk Mengecewakan

Jadi pertanyaan yang dulu saya kira paling sulit “apa yang bisa saya tawarkan melebihi yang gratis?” ternyata sudah terjawab. Yang saya tawarkan adalah gesekan. Adalah “kenapa”. Adalah “belum”.

Tapi jawaban itu melahirkan pertanyaan yang jauh lebih berat, dan inilah yang saya bawa pulang tiap selesai mengajar. Di dunia yang seluruh mesinnya dirancang untuk menyenangkan murid saya tanpa henti Pinterest yang selalu memuji, algoritma yang selalu setuju, tutorial yang selalu berakhir bahagia apakah saya punya cukup keberanian untuk menjadi satu titik di mana mereka, untuk sekali saja, dikecewakan dengan sengaja? Dikecewakan bukan untuk dijatuhkan, melainkan supaya tumbuh.

Sebab di sanalah, saya curiga, letak seluruh perkara. Maestro lima belas menit itu mencetak juru masak resep dalam jumlah tak terhingga. Dan dunia, harus diakui, memang butuh juru masak resep. Tapi seorang desainer desainer yang sebenarnya lahir dari satu hal yang tak pernah bisa diberikan oleh layar mana pun: dari pernah, sekali saja, dipaksa berhenti dan ditanya, “kamu yakin?”

Kelas, pertanyaan saya untuk kalian dan untuk diri saya sendiri cuma satu: kalau seluruh dunia sudah sepakat untuk selalu bilang “bagus, lanjutkan”, masih beranikah kita menjadi orang yang berkata “tidak”?

Tag: Bahasa Rupa desain grafis desain indonesia dkv Gen Z Pendidikan Desain Visualis
Artikel ini bermanfaat? Bagikan.
X / Twitter LinkedIn WhatsApp
Penulis
Didi Subandi
Desainer yang menulis

Artikel Terkait

Punya perspektif lain tentang topik ini?

Tulis di Visualis dan jangkau ribuan pembaca yang tepat.

Tulis Artikel
← Sebelumnya
Mengunyah Kalori, Memuntahkan Seni: Satir di Balik Sepiring Makan Bergizi Gratis
Berikutnya →
Teater Keaslian: Gen Z Lari ke Bukit, Tapi Sinyalnya Tetap Penuh

Login untuk meninggalkan komentar dan berdiskusi dengan penulis.

WhatsApp