Redaksi Visualis.id Β· AI + Creatives, Pendidikan Desain
Pertanyaan ini bukan soal apakah AI boleh dipakai di kampus. Boleh. Pertanyaannya lebih sederhana dan lebih merepotkan: kalau karya tidak lagi bisa dilacak ke keputusan seseorang, masih bisakah kita menyebutnya karya?
Pernah nggak Anda perhatikan, portofolio mahasiswa DKV sekarang terlihat sangat bagus? Konsisten, rapi, trend-aware. Feed Instagram-nya seperti studio profesional. Brief dikerjakan tepat waktu. Revisi diselesaikan dalam hitungan menit. Dosen manggut-manggut puas.Tapi begitu ditanya di sesi review, “kenapa font ini dipilih?” ada keheningan yang berbeda dari keheningan mahasiswa yang sedang berpikir keras. Ini keheningan lain. Keheningan mahasiswa yang tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena malas. Bukan karena tidak belajar. Tapi karena pertanyaan itu tidak pernah muncul dalam workflow mereka. Mereka generate, mereka pilih yang paling estetik, mereka submit. Tidak ada satu momen pun di mana seseorang harus memutuskan sesuatu berdasarkan alasan.
“Dulu mahasiswa bisa salah pilih font, tapi mereka tahu kenapa memilihnya. Sekarang kita punya mahasiswa yang pilih font dengan benar dan tidak tahu kenapa.”Dan ini bukan ironi kecil. Ini gejala dari sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi diam-diam di kampus DKV seluruh Indonesia.
Lima wajah “desainer tanpa karya” di kampus DKV kita
Istilah “desainer tanpa karya” pertama kali kami dengar dari seorang dosen senior yang sudah 30 tahun mengajar. Bukan sebagai hinaan. Tapi sebagai observasi yang ia sampaikan dengan lelah bukan marah, tapi lelah. Kami tidak langsung setuju. Kami coba petakan dulu.
Hasilnya: ada setidaknya lima pola berbeda yang semua bermuara ke satu masalah yang sama. Dan semuanya punya nama yang lebih jujur dari “mahasiswa yang tidak serius.”
Yang mengkhawatirkan bukan salah satu dari lima pola ini secara terpisah. Yang mengkhawatirkan adalah ketika seorang mahasiswa masuk dalam semua lima sekaligus dan IPK-nya tetap 3,8. Sistem kita tidak hanya gagal mendeteksi masalah ini. Sistem kita aktif memberinya penghargaan.
Kampusnya yang bermasalah, atau kurikulumnya?
Mari kita jujur: sistem penilaian desain di sebagian besar kampus DKV Indonesia tidak dirancang untuk mendeteksi kehampaan konseptual. Kita menilai ketepatan visual, kerapian layout, dan ketaatan brief. Ada rubrik untuk komposisi. Ada rubrik untuk warna. Tidak ada rubrik untuk “apakah mahasiswa ini tahu kenapa ia memilih ini.” Dan ini bukan semata kesalahan kampus. Ini adalah masalah sistemik yang bergerak lebih cepat dari kemampuan institusi untuk beradaptasi. Ketika seorang dosen yang menuntut justifikasi verbal dianggap “ribet” atau “nggak relevan zaman sekarang” dan mahasiswa yang bisa menghasilkan 50 varian logo dalam dua jam dianggap produktif dan kreatif kita sedang mengoptimalkan metric yang salah. Dan selamat: kita berhasil melakukannya dengan sangat efisien.
Sistem penilaian kita tidak gagal menangkap mahasiswa tanpa karya. Sistem kita dengan tulus memberi mereka nilai A.Di luar angka akreditasi dan feed portofolio yang memukau, ada sebuah pertanyaan yang menggantung di udara setiap ruang review: ketika mahasiswa ini lulus dan klien pertama mereka bertanya “kenapa desainnya seperti ini?” jawaban apa yang akan mereka berikan?
Mungkin mereka akan generate opsi baru. Mungkin mereka akan berkata “ini yang paling bagus menurut AI.” Atau mungkin dan ini yang paling mencemaskan kami β mereka akan memberikan jawaban yang persis sama dengan yang mereka berikan di ruang review kampus dulu: keheningan yang tampak seperti seseorang sedang berpikir.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Kami tidak datang dengan solusi lengkap. Tapi ada beberapa titik masuk yang rasanya lebih jujur dari sekadar “melarang AI di kelas” yang, sejauh pengamatan kami, tidak pernah berhasil dan tidak seharusnya menjadi jawabannya.
Pertama, ubah yang dinilai. Bukan hanya output akhir, tapi proses pengambilan keputusan. Rubrik yang memasukkan justifikasi verbal kenapa pilihan ini, atas dasar apa, untuk audiens siapa memaksa mahasiswa untuk kembali ke momen di mana seseorang harus sungguh memutuskan sesuatu.Kedua, pisahkan eksplorasi dan presentasi. Biarkan AI dipakai bebas di fase eksplorasi. Tapi di momen presentasi, mahasiswa harus bisa berdiri di belakang karya dan berkata: ini keputusanku. Bukan “ini output terbaik dari iterasi ke-47.”
Ketiga dan ini yang paling sulit kampus perlu berani mendefinisikan ulang apa artinya “kompeten” di era ini. Bukan seberapa cepat menghasilkan, tapi seberapa dalam memahami mengapa menghasilkan sesuatu yang seperti ini, bukan yang lain.Kami tidak tahu persis seperti apa jawabannya. Tapi kami cukup yakin dengan pertanyaannya: apakah kampus DKV kita sedang menghasilkan desainer atau operator yang sangat estetis?
https://www.kompasiana.com/jagobandung4138/6943ff6c34777c0cc37b7742/dosen-pakai-ai-itu-efesiensi-mahasiswa-pakai-ai-itu-kriminal-sebuah-satir-akademik