Lewati ke konten
Culture + Lifestyle

Kurasi Sang Maestro: Ketika Midjourney Menerjemahkan “Rasa” Mistis Budaya Lokal

Maka, kawan-kawan, jika Midjourney adalah Sang Maestro yang jenius tapi buta budaya, lalu kita ini siapa?

Didi Subandi
07 June 2026  ·  7 menit baca

Nenek saya tidak pernah menjelaskan kenapa kami tidak boleh kencing di bawah pohon beringin besar di ujung kampung. Ia hanya menurunkan suara, menepuk pundak saya, dan berkata satu kata: “Wingit.” Selesai. Tidak ada penjelasan lanjutan, tidak ada definisi, tidak ada catatan kaki. Dan anehnya, saya mengerti. Bukan mengerti seperti memahami arti kata di kamus, mengerti seperti tahu kapan harus diam di ruang yang salah. Bulu kuduk saya yang menerjemahkan, bukan otak saya.

Bertahun-tahun kemudian, saya duduk di depan layar, mengetikkan kata yang sama itu ke dalam kotak prompt Midjourney. Saya penasaran: bisakah ia merasakan apa yang dirasakan nenek saya? Bisakah sebuah model difusi yang dilatih dari miliaran gambar internet, mayoritasnya berasal dari belahan dunia yang tak pernah mengenal beringin keramat, menangkap getaran itu? Saya tekan enter. Dan di situlah, teman-teman, pelajaran sesungguhnya dimulai.

Sang Maestro dari Negeri Seberang

Mari kita ubah dulu cara kita memandang alat ini. Berhentilah membayangkan Midjourney sebagai mesin. Bayangkan ia sebagai seorang maestro pelukis asing, katakanlah seseorang yang lulus dengan predikat summa cum laude dari akademi seni paling bergengsi di Eropa, magang di studio Hollywood, dan menghabiskan masa mudanya mempelajari setiap goresan Caravaggio, setiap gradasi warna film Marvel, setiap komposisi sampul album yang pernah viral.

Ia jenius. Tangannya ajaib. Tapi ia belum pernah ke Indonesia.

Ia tidak pernah mencium bau kemenyan yang membakar di malam Jumat Kliwon. Ia tidak pernah merasakan udara yang tiba-tiba menebal saat melewati makam tua. Ia tidak tahu bahwa di sini, “gelap” tidak selalu berarti “menyeramkan”, dan “kuat” tidak selalu berarti “berotot”. Maka ketika kita memintanya melukis jiwa Nusantara, yang sebetulnya kita lakukan bukanlah menulis kode. Yang kita lakukan adalah berdiskusi dengan seniman tamu yang sopan tapi penuh prasangka estetik bawaan. Prompt engineering, dalam konteks ini, bukan urusan sintaksis. Ia adalah urusan diplomasi budaya.

Dan diplomasi, seperti kita tahu, selalu penuh salah paham yang menggelikan.

Eksperimen Pertama: “Wingit”

Saya mulai dengan kata yang membuat nenek menepuk pundak saya. Saya jelaskan kepada Sang Maestro: sebuah hutan, sebuah tempat, sebuah aura yang wingit.

Hasilnya datang dalam empat panel. Dan keempatnya dengan penuh percaya diri menyodorkan saya rumah hantu khas Hollywood. Kabut tebal yang dramatis. Pohon-pohon menjulang dengan cabang seperti cakar. Pencahayaan biru sinematik. Mungkin ada gagak di suatu sudut. Indah, ya. Teknis, sempurna. Tapi salah total.

Karena wingit bukan horor. Wingit tidak berteriak. Wingit tidak melompat dari balik pintu untuk mengagetkanmu. Wingit adalah perasaan bahwa sebuah tempat sudah ditempati—bukan oleh sesuatu yang ingin menyakitimu, tapi oleh sesuatu yang lebih tua, lebih berhak, dan lebih baik kau tidak ganggu. Ia adalah keheningan yang sopan tapi tegas. Ia adalah rasa hormat yang dibungkus rasa takut, bukan sebaliknya.

Sang Maestro, dengan seluruh kejeniusannya, hanya punya satu laci untuk perasaan ini, dan di laci itu tertulis: spooky/haunted. Ia menerjemahkan getaran spiritual menjadi atraksi taman hiburan. Seperti menjelaskan rasa durian kepada orang yang seumur hidup hanya kenal permen—ia akan mengangguk, lalu menyodorkanmu sesuatu yang manis dan berbau tajam, dan merasa sudah benar.

“Sakti”: Ketika Kekuatan Disalahpahami sebagai Ledakan

Kalau “wingit” gagal di soal suasana, “sakti” gagal di soal volume. Saya minta Sang Maestro menggambarkan seorang tokoh yang sakti.

Ia langsung memberi saya Doctor Strange versi lokal. Sinar memancar dari tangan. Portal energi berputar. Mata menyala. Pose dramatis seolah baru saja menyerap petir. Semua serba terang, meledak, dan dipertontonkan.

Padahal, sesungguhnya, kesaktian dalam batin Nusantara justru bekerja terbalik. Orang sakti yang sejati seorang kiai sepuh, seorang empu, seorang pertapa justru diam. Kekuatannya tidak dipamerkan; ia diendapkan. Sebuah keris yang sakti tidak menyala-nyala; ia hanya terasa “berdenyut” pelan saat kau dekatkan ke tengkukmu. Daya itu ada di dalam keheningan, di dalam menahan diri, di dalam mata yang teduh tapi membuatmu enggan berbohong.

Sang Maestro tumbuh besar dengan logika sinema Barat: kekuatan harus terlihat, harus ada visual effects, harus ada momen di mana sang pahlawan mengeluarkan jurus pamungkas dengan latar musik orkestra. Ia tidak punya bahasa visual untuk potensi yang sengaja direm. Memintanya menggambar kesaktian yang sunyi sama seperti meminta penyanyi opera berbisik, seluruh latihannya memberontak.

“Gotong Royong” dan “Adiluhung”: Salah Paham yang Lebih Halus

Dua kata berikutnya lebih licin, karena Sang Maestro mengira ia paham, padahal tidak.

Saat saya ucapkan “gotong royong”, ia menyodorkan foto stok korporat: sekelompok orang dengan latar belakang etnis yang sengaja dibuat beragam, tersenyum lebar, tangan bertumpuk di tengah seperti tim sepak bola sebelum bertanding. Sebuah ilustrasi teamwork untuk slide presentasi perusahaan. Bersih, ceria, dan sama sekali tanpa keringat.

Tapi gotong royong bukan teamwork. Tidak ada KPI di dalamnya, tidak ada manajer proyek. Ia adalah ritme irama beberapa puluh orang mengangkat rumah panggung secara harfiah, suara aba-aba yang serempak, lumpur di betis, dan kesadaran tak tertulis bahwa minggu depan giliranmu yang dibantu. Ia bukan pose; ia adalah peristiwa. Sang Maestro memberi saya sampulnya, bukan isinya.

Lalu “adiluhung”. Di sini Sang Maestro melakukan kesalahan paling khas seorang yang dididik secara Eropa: ia menyamakan “keluhuran” dengan “kemewahan”. Saya diberi ornamen baroque berlapis emas, bingkai rumit ala istana Versailles, kemegahan yang berteriak aku mahal. Padahal adiluhung, keagungan batik tulis, kehalusan gending gamelan, kedalaman filosofi wayang—justru sering tampil sederhana di permukaan dan dalam di kedalaman. Keluhurannya bukan pada kilau emas, tapi pada kesabaran tangan yang membatik selama berbulan-bulan, pada makna yang berlapis di balik motif yang tampak tenang. Sang Maestro menerjemahkan “agung” menjadi “mahal”, karena di galeri tempat ia belajar, dua kata itu memang sering bergandengan.

Lalu, Sesuatu yang Tak Terduga Terjadi

Di titik ini, mudah sekali bagi kita untuk menutup artikel dengan nada getir: “AI tidak akan pernah memahami kita.” Tapi itu kesimpulan yang malas, dan jujur saja membosankan.

Karena yang benar-benar menarik bukanlah kegagalan Sang Maestro. Yang menarik adalah apa yang lahir dari kegagalan itu.

Ketika saya berhenti memaksanya menjadi pelukis dokumenter Nusantara, dan mulai mengajaknya berdiskusi menambahkan konteks, menjelaskan rasa, menumpuk kata sifat, mengoreksi dengan sabar seperti membimbing seniman tamu di sanggar sesuatu yang ganjil dan indah muncul. Bukan beringin keramat versi nenek saya. Bukan pula rumah hantu Hollywood. Melainkan sesuatu di antaranya.

Sebuah beringin yang wingit, tapi diterangi cahaya sinematik yang melankolis. Seorang tokoh sakti yang diam, tapi dibungkus komposisi megah ala poster film. Gotong royong yang punya bobot emosional sebuah lukisan klasik. Adiluhung yang bersih, modern, sekaligus tetap menyimpan getaran lokalnya. Sebuah estetika hibrida lahir dari pergulatan antara prasangka global dan mistisisme lokal, di mana keduanya tidak menang, tapi saling mewarnai.

Inilah yang sering luput kita sadari: setiap kali budaya bertemu media baru, ia tidak pernah berpindah utuh. Wayang berubah saat masuk ke layar televisi. Batik berubah saat dicetak mesin. Dan kini, “rasa” Nusantara berubah lagi saat melewati saringan model difusi bukan musnah, tapi bermutasi. Sang Maestro bukan sedang menjiplak budaya kita; ia sedang salah menerjemahkannya secara kreatif, dan dari salah terjemah itulah lahir dialek visual yang baru.

Penutup: Tugas Sang Kurator Bergeser

Maka, kawan-kawan, jika Midjourney adalah Sang Maestro yang jenius tapi buta budaya, lalu kita ini siapa?

Kita adalah kuratornya. Tugas kita bukan lagi sekadar melukis itu sudah ia ambil alih. Tugas kita adalah duduk di sampingnya, menjelaskan dengan sabar bahwa wingit bukan creepy, bahwa sakti bukan flashy, bahwa keluhuran tidak diukur dengan emas. Tugas kita adalah menjadi penjaga “rasa” menolak ketika ia terlalu Hollywood, mendorong ketika ia menyentuh sesuatu yang benar, dan punya keberanian untuk berkata “belum, coba lagi” sampai bulu kuduk kita sendiri yang memberi tahu bahwa terjemahannya sudah pas.

Sebab di ujung sana, mesin tidak akan pernah merasakan tepukan tangan nenek di pundak kita. Tapi kita merasakannya. Dan selama kita masih ingat rasa itu selama kita masih bisa membedakan antara takut yang murahan dan hormat yang dalam maka kendali atas jiwa Nusantara masih ada di genggaman kita, bukan di genggaman Sang Maestro.

Ia mungkin pelukisnya. Tapi kita tetap yang menentukan kapan lukisan itu benar.

Tag: ai aigenerate budaya cultur Midjourney
Artikel ini bermanfaat? Bagikan.
X / Twitter LinkedIn WhatsApp
Penulis
Didi Subandi
Desainer yang menulis

Artikel Terkait

Punya perspektif lain tentang topik ini?

Tulis di Visualis dan jangkau ribuan pembaca yang tepat.

Tulis Artikel
← Sebelumnya
Membedah Tren “Solopreneur Agency”: Desain Kelas Dunia dari Satu Kursi Kerja
Berikutnya →
Sensor vs Kreativitas: Memagari Kanvas Digital Indonesia dari Penjarahan Estetika AI

Login untuk meninggalkan komentar dan berdiskusi dengan penulis.

WhatsApp