Di sebuah kedai kopi langganan desainer di Bandung, saya mendengar percakapan yang belakangan terdengar di mana-mana. “Orang sudah capek dengan desain yang terlalu sempurna,” kata seorang yang masih muda, menyeruput kopinya dengan yakin. “Sekarang orang mau yang jujur. Yang terasa manusiawi.” Teman-temannya mengangguk khidmat, seolah baru saja menerima wahyu.
Saya tidak ikut mengangguk. Bukan karena tidak setuju, melainkan karena satu pertanyaan kecil mengganjal di kepala saya, dan terus mengganjal sampai sekarang: jujur yang seperti apa? Dan ini yang lebih penting untuk siapa? Sebab frasa “kembali ke yang manusiawi” itu terdengar indah dan aman di panel diskusi internasional mana pun. Tetapi begitu ia turun ke sini, ke Bandung, ke Jogja, ke Medan, ia berubah menjadi pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab.
Dua Puluh Tahun Mencontek Pekerjaan Rumah
Mari jujur pada diri sendiri. Desain komersial Indonesia dalam dua dekade terakhir kerap berperilaku seperti murid yang selalu menyalin pekerjaan rumah teman sebangku. Ketika dunia luar bilang “minimalis itu bagus”, kita pun berlomba memangkas. Ketika ia bilang “desain datar itu modern”, kita ratakan segalanya. Dan kini, ketika ia bilang “yang tak sempurna itulah yang asli”, kita buru-buru memungut kesan kasar dari galeri tren di internet.
Yang janggal, desain yang benar-benar bekerja di sini yang membuat orang langsung paham, yang melekat di ingatan, yang punya watak hampir selalu menyimpan sesuatu yang lokal di dalamnya. Ada tekstur yang tidak bersih. Ada percakapan diam-diam dengan rupa yang sudah lama hidup di masyarakat. Anehnya, justru itu yang jarang kita bicarakan. Kita lebih sibuk mengejar kosakata pinjaman ketimbang membaca yang sudah ada di depan mata.
“Kembali ke Akar” Itu Sebenarnya Apa?
Perlu saya tegaskan lebih dulu, supaya tidak salah arah: ini bukan tentang menempelkan batik di setiap sudut. Itu jebakan lama yang dulu kita sebut “desain etnik” di awal tahun 2000-an dan sudah terbukti tidak bekerja. Menempelkan ornamen tradisional pada kemasan modern bukanlah kembali ke akar; itu hanya menjadikan akar sebagai hiasan.
Kembali ke akar dalam konteks Nusantara, menurut saya, berarti sesuatu yang lebih sunyi dan lebih sulit: desainer Indonesia mulai serius membaca bahasa rupa yang sudah hidup di sini rupa yang punya tata bahasa dan logikanya sendiri. Rupa yang bukan tertinggal, melainkan ditinggalkan.
Lihatlah desain poster pertunjukan musik indie di Bandung, kaus dagangan yang mendadak viral, atau kemasan makanan lokal yang dibeli orang bukan karena mereknya melainkan karena tampilannya terasa “kena”. Semuanya menyimpan kekasaran yang disengaja. Ada lapisan yang berbicara ke perasaan dan gerak hati, bukan semata ke nalar. Itu bukan kebetulan atau kekurangan keterampilan. Itu cara berpikir rupa yang berbeda.
Kejelasan ala Pasar, Kejelasan ala Kantor
Amati sebentar papan-papan di pasar tradisional. Tulisan tangan di kayu, warna yang seolah ngawur, tata letak yang tak pernah lulus kelas tipografi mana pun tetapi anehnya, semua orang langsung bisa membacanya. Tidak ada yang perlu berpikir dua kali untuk tahu mana lapak ikan, mana penjual rempah.
Itu sebuah sistem yang sangat jelas dan efisien. Hanya saja, kejelasannya tidak diukur dengan kaidah pembagian bidang atau sistem grid yang kita pelajari dari buku-buku Barat. Kejelasannya lahir dari konteks budaya: dari kebiasaan, dari ingatan kolektif, dari cara sebuah masyarakat sudah terbiasa membaca ruang. Dengan kata lain, ia punya cara mengetahui yang berbeda dan sah.
Bukan saya yang pertama menyadari ini. Mendiang Primadi Tabrani, lewat kajiannya tentang Bahasa Rupa, sudah lama menunjukkan bahwa rupa tradisional Nusantara dari relief candi hingga wayang memiliki tata bahasanya sendiri yang utuh, bukan versi “primitif” dari rupa modern. Maka ketika desain global pada 2026 kembali mengagungkan “kejelasan” dan “efisiensi”, bagi desainer Indonesia kata-kata itu bisa berarti sesuatu yang lain: kejelasan yang diartikulasikan lewat bahasa rupa yang sudah dipahami penontonnya sendiri bukan kejelasan yang diukur dengan standar internasional.
Merebut Kembali Kendali — tapi Siapa yang Bisa?
Belakangan, industri desain dunia ramai membicarakan “merebut kembali kendali kreatif dari kecerdasan buatan”. Niatnya baik. Tetapi di sini, pertanyaannya menjadi lebih tajam: siapa, sebenarnya, yang punya kemampuan untuk merebut?
Sebab kalau “renaisans” ini hanya bisa dijalankan oleh desainer yang mampu membayar langganan perangkat lunak mahal dan memiliki komputer yang memadai, maka itu bukan renaisans untuk semua orang. Itu hanya memperdalam jurang yang sudah ada memperkaya yang sudah kaya akan akses. Renaisans yang bermakna di Nusantara seharusnya berarti sebaliknya: kerangka berpikir yang terjangkau oleh desainer pemula di kota-kota kecil, oleh mahasiswa desain yang sumber dayanya terbatas, bahkan oleh perajin yang masih bekerja dengan tangan tetapi memiliki kepekaan rupa yang tajam.
Artinya, yang paling dibutuhkan bukan sekadar perangkat baru, melainkan cara berpikir baru. Dan cara berpikir, berbeda dengan perangkat lunak, tidak menuntut biaya langganan.
Pertanyaan yang Lebih Dalam
Di sinilah saya ingin menyentuh ironinya. Desain global 2026 sedang merayakan “keaslian” dan “sentuhan manusia”. Bagus. Namun di Indonesia, yang dianggap “asli” sering kali justru yang paling mudah dikemas untuk konsumsi kota besar yang enak dijadikan tampilan di media sosial. Batik diciutkan menjadi sekadar pola cetak. Warisan desa diolah menjadi “penjenamaan bernuansa pusaka”. Itu bukan merayakan rupa lokal; itu memungutnya sebagai hiasan, lalu memajangnya seperti benda pajangan di etalase.
Maka renaisans yang sungguh-sungguh bermakna di Nusantara, barangkali, bukanlah tentang merayakan “ketidaksempurnaan” karena ketidaksempurnaan memang selalu ada di sini, tidak perlu dirayakan seperti penemuan baru. Ia lebih tentang mengakui dan menghargai beragam cara membuat rupa yang sudah lama ada, yang punya logika dan sistemnya sendiri dan berhenti memperlakukannya sebagai sesuatu yang “belum modern”, yang menunggu giliran untuk dipoles secara digital.
Membaca Silsilah Sendiri
Pada akhirnya, pertanyaan yang benar-benar penting sederhana saja: apakah desainer muda kita belajar membaca silsilah bahasa rupanya sendiri atau masih sibuk menonton tren dari papan-papan gambar di internet?
Sebab ketika seorang desainer memahami bahwa setiap pilihan huruf, setiap cara menyusun elemen, setiap warna yang ia ambil itu tidak netral bahwa semuanya punya sejarah, punya asal-usul, punya hubungan dengan struktur kekuasaan barulah ia bisa memilih dengan sadar. Dan pilihan yang sadar, bukan sekadar ikut-ikutan, itulah inti sesungguhnya dari merebut kembali kendali.
Saya menutup dengan pertanyaan yang masih saya bawa sendiri sampai hari ini, dan dengan senang hati saya tinggalkan untuk Anda renungkan: dari semua yang kita sebut “desain Indonesia”, apa sebenarnya yang sudah mati dan perlu dibangunkan dan apa yang sebetulnya masih hidup, tetapi kita abaikan, hanya karena ia tidak cocok dengan cerita besar yang sedang dirayakan dunia?
#VisualisID #BahasaRupa #DesainNusantara #EstetikaLokal #PrimadiTabrani #DKV #DesainGrafis #BudayaVisual #KajianBudaya #RenaisansDesain #DesainIndonesia #KearifanLokal #IndustriKreatif #SeniRupa