Lewati ke konten
Insights + Opinion

“Seni vs Teknologi: Saya Mulai dari Kaki. AI Mulai dari Mana?”

AI itu Mainan. Dan Saya Tidak Mengucapkannya Sebagai Penghinaan.

AI itu mainan (menyenangkan tapi semu) yang canggih dan saya mengatakannya bukan sebagai penghinaan. Saya sudah cukup lama hidup untuk tahu: semua mainan akhirnya membosankan ketika polanya bisa ditebak.

Aten Waluya
19 June 2026  ·  8 menit baca
X in wa
Aten Waluya

Sudah puluhan tahun saya melukis dengan dua tangan sekaligus, tanpa model, dan selalu memulai dari kaki dari jemari, dari tapak, dari bawah. Bukan karena dramatis. Bukan untuk membuat orang heran. Tapi karena di situlah saya harus mulai: dari titik paling jauh dari kepala, dari tempat yang paling sering dilupakan, dari bagian tubuh yang paling jujur menyentuh tanah.

Ketika seseorang mengetikkan satu baris kalimat dan sepuluh detik kemudian sebuah citra surealis muncul di layar   saya tidak merasa terancam. Saya justru bertanya-tanya: proses itu dimulai dari mana? Dari pikiran, tentu. Tapi pikiran yang seperti apa? Apakah ia melewati tubuh? Apakah ada ketegangan otot di sana, ada keraguan di persimpangan jari, ada keputusan kecil yang lahir dari sentuhan?

Saya tidak menemukan jawabannya. Dan ketidakhadiran jawaban itulah yang membuat saya terus berpikir.

simbolic
karya Aten Waluya berjudul simbolic | sumber : https://seni.co.id/agenda/drawing-10-dan-perenungan-yang-sublim/

AI itu Mainan. Dan Saya Tidak Mengucapkannya Sebagai Penghinaan.

Izinkan saya jujur: AI generatif itu mainan yang sangat canggih. Saya mengatakannya bukan untuk meremehkan. Saya mengatakannya karena saya sudah cukup lama hidup untuk tahu bagaimana siklus alat baru bekerja pada manusia yang memakainya.

Mainan yang baik selalu dimulai dengan keajaiban. Anda menekan tombol, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya muncul. Anda terpesona. Anda ulangi. Anda eksplorasi batasnya. Lalu   dan ini yang hampir selalu terjadi   Anda mulai menemukan polanya. Anda sadari bahwa di balik kemegahan output-nya, mesin itu bekerja dalam logika yang bisa ditebak: ia meramu probabilitas dari miliaran referensi untuk menghasilkan apa
yang “paling mungkin dianggap benar” oleh mata manusia.

Dan di titik itulah rasa bosan mulai datang. Bukan karena mainannya rusak. Tapi karena manusia pada dasarnya tidak puas dengan sesuatu yang bisa ia tebak.

 Yang membedakan seniman dari operator adalah: seniman justru bergerak ke arah yang tidak bisa ditebak. Ia mencari gesekan, ketidaknyamanan, kejutan yang muncul dari proses yang belum pernah dilalui. Sebuah mainan secanggih apapun tidak bisa memberi itu. Ia hanya bisa memberi variasi dari apa yang sudah ia pelajari dari orang lain.

Maka pertanyaan yang relevan bukan “apakah AI mengancam desainer?” Pertanyaan yang relevan adalah: setelah rasa takjub itu berlalu, apa yang tersisa pada seorang desainer yang hanya tahu cara memesan?

Mesin Tidak Ragu. Dan Itu Masalahnya.

Di era saya belajar di FSRD ITB, seni grafis surealis adalah wilayah yang tidak populer. Abstrak sedang merajalela. Ekspresionistik sedang berteriak. Dan saya muncul dengan kecenderungan surealis   gambaran tubuh-tubuh yang bertumpukan, manusia yang melebur dengan hewan, mitos yang bercampur dengan mimpi. Kurator Chandra
Johan pernah mencatat bahwa cara saya menggambar melibatkan psikoanalisis   bukan sebagai teori, tapi sebagai proses yang berlangsung sungguhan di antara tangan dan kanvas.

Yang saya tahu dari pengalaman itu: seni yang sungguh-sungguh lahir dari keraguan yang dikelola, bukan dari kepastian yang dicetak. Tangan saya ragu ribuan kali sebelum satu karya selesai. Ragu itu bukan kelemahan   ia adalah proses berpikir yang berlangsung lewat otot dan saraf, bukan hanya lewat nalar.

AI tidak ragu. Ia memprobabilisasi. Ia menghitung apa yang “paling mungkin dianggap tepat” berdasarkan miliaran contoh. Kecepatan itu mengesankan. Tapi cepat dan dalam adalah dua hal yang berbeda.

Para Maestro Itu Tidak Menunggu Mesin. Mereka Memaksa Tangan untuk Berpikir.

Saya sering berpikir tentang Milton Glaser. Desainer yang merancang logo “I ♥ NY” itu melakukannya dengan krayon di atas secarik kertas di dalam taksi. Bukan di depan komputer dengan seratus layer. Bukan dengan prompt AI yang dirancang dengan seksama. Sepotong krayon, secarik kertas, dan lompatan intuisi yang hanya mungkin terjadi karena ia sudah menghabiskan puluhan tahun melatih tangannya untuk berpikir sendiri.

Atau Saul Bass   yang kita kenal lewat opening title film-film Hitchcock dan Preminger. Ia memotong kertas secara manual. Bukan karena ia tidak punya pilihan lain, tapi karena dalam proses memotong itu ada keputusan-keputusan kecil yang tidak bisa didelegasikan: sudut mana yang harus dipertahankan, tepi mana yang boleh kasar, ritme mana yang terasa benar di tangan sebelum terasa benar di mata. “Anatomy of a Murder”, “Vertigo”, “The Man with the Golden Arm” semua lahir dari tangan yang memaksa dirinya untuk menyelesaikan masalah tanpa bantuan.

Lebih dekat ke kita: Hanny Kardinata dan kawan-kawan Grafis ’80 bertarung dengan leteraset, pisau cutter, dan kamera kamar gelap. Satu huruf yang salah berarti mengulang dari awal. Tidak ada Ctrl+Z. Tidak ada undo. Dan justru karena tidak ada undo itulah setiap keputusan dipertimbangkan sungguh-sungguh, setiap milimet kanvas diperlakukan dengan hormat. Mereka tidak hanya menghasilkan karya mereka melatih cara berpikir yang tertanam dalam tubuh, bukan hanya dalam ingatan.

Saya mengenal dunia itu. Saya melewatinya. Dan yang saya tahu: sensibilitas yang terbentuk di sana tidak bisa disingkat. Ia hanya bisa ditempuh.

AI bisa menghasilkan ribuan variasi dari apa yang Glaser, Bass, atau Kardinata sudah kerjakan. Tapi ia tidak bisa menghasilkan apa yang membuat mereka mengambil keputusan itu di titik pertama: pengalaman gagal yang terakumulasi, insting yang terbentuk dari ribuan jam kontak dengan bahan, dan keberanian untuk memilih satu garis di antara satu juta kemungkinan karena tangan mereka tahu mana yang benar.

Tubuh yang Tidak Pernah Berbohong

Ketika saya menggambar dari kaki, ada sesuatu yang terjadi: tubuh saya harus berkompromi dengan gravitasi. Kuas harus naik, pergelangan harus menyesuaikan, bahu ikut menanggung. Karya yang dihasilkan bukan hanya produk pikiran   ia produk dari negosiasi antara pikiran dan tubuh yang masing-masing punya batasnya sendiri.

Inilah yang saya khawatirkan dari mahasiswa DKV hari ini   bukan bahwa mereka menggunakan AI, tapi bahwa mereka mungkin tidak pernah mengenal negosiasi semacam itu. Tidak tahu rasanya berdebat dengan bahan. Tidak tahu apa yang terjadi ketika tangan memutuskan berbeda dari rencana kepala.

Saya bukan menentang alat baru. Saya sudah melewati pergantian alat berkali-kali: dari etsa manual ke repro, dari repro ke digital, dari digital ke era yang sekarang. Setiap kali, yang bertahan bukan tekniknya tapi sensibilitas yang terbentuk lewat proses yang panjang. Dan sensibilitas itu tidak bisa dibangun tanpa tubuh yang pernah salah, yang pernah kelelahan, yang pernah menemukan sesuatu yang tidak direncanakan.

Generasi yang Belajar Menyeleksi, Tapi Belum Pernah Menciptakan

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya saat mengamati mahasiswa grafis muda sekarang   mereka cukup baik, tapi banyak yang kurang menguasai dasar menggambar. Itu bukan kritik soal gaya. Itu soal struktur berpikir yang berbeda.

Ketika AI menyodorkan seratus pilihan visual dalam semenit, yang dilatih bukan kemampuan mencipta tapi kemampuan menyeleksi. Dua kemampuan yang terlihat mirip tapi berasal dari sumber yang berbeda. Menciptakan berangkat dari kekosongan yang harus diisi oleh diri sendiri. Menyeleksi berangkat dari kelimpahan yang sudah ada dan tinggal dipilih.

Keduanya diperlukan. Tapi keduanya tidak bisa saling menggantikan. Dan pertanyaan yang belum terjawab adalah: bagaimana seorang desainer bisa menyeleksi dengan tajam jika ia tidak pernah merasakan beratnya menciptakan dari nol?

Gunakan Ia. Tapi Jangan Lupa Dari Mana Anda Memulai.

Saya tidak berdiri di sini untuk menolak AI. Alat adalah alat. Yang memberi alat itu makna adalah tangan yang memegangnya dan kepala serta tubuh yang ada di belakang tangan itu.

Untuk mahasiswa DKV yang membaca ini: gunakanlah AI untuk mempercepat eksplorasi, untuk mengetes ide-ide awal, untuk membuka kemungkinan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Itu sah. Tapi sesekali, kembalilah ke tangan. Gambar tanpa bantuan. Biarkan garis itu salah. Biarkan komposisi itu gagal. Biarkan tubuh Anda terlibat dalam perdebatan dengan bahan.

Bukan karena proses manual itu lebih mulia. Tapi karena dari sanalah Anda akan tahu sungguh-sungguh tahu apa yang membuat sebuah visual bernyawa dan apa yang membuatnya hanya tampak.

Dan ketika rasa takjub pada mainan baru itu, akhirnya reda dan ia pasti akan reda,  yang akan membedakan Anda dari orang lain bukan seberapa canggih prompt yang Anda ketikkan. Tapi seberapa dalam Anda pernah mengenal pekerjaan Anda sendiri.

Saya mulai melukis dari kaki. Dari titik paling jauh dari kepala. Karena di sanalah kejujuran bermula sebelum nalar sempat mengontrol semuanya.

 

─────

 FAQ

Apa yang dimaksud AI sebagai ‘mainan’ (menyenangkan tapi semu)  dalam konteks desain grafis?

Bukan penghinaan terhadap teknologinya   tapi pengamatan terhadap siklus psikologis manusia dengan alat baru: takjub, eksplorasi, lalu bosan ketika polanya mulai bisa ditebak. Desainer yang hanya mengandalkan AI tanpa fondasi proses sendiri akan sampai di titik bosan itu lebih cepat, tanpa bekal untuk melangkah lebih jauh.

Apa pelajaran dari tokoh-tokoh grafis seperti Milton Glaser dan Saul Bass untuk desainer hari ini?

Mereka membuktikan bahwa keputusan visual yang paling kuat lahir dari tangan yang terlatih dan intuisi yang terakumulasi   bukan dari banyaknya pilihan yang tersedia. Glaser dengan krayon di taksi, Bass dengan kertas yang dipotong manual: keduanya memaksa diri untuk menyelesaikan masalah tanpa bantuan. Proses itu yang membentuk sensibilitas mereka.

Apa risiko utama mahasiswa DKV yang mengandalkan AI terlalu awal?

Mereka melatih kemampuan menyeleksi tanpa pernah melatih kemampuan menciptakan dari nol. Keduanya berbeda secara fundamental   dan kemampuan menyeleksi yang tajam biasanya lahir dari pengalaman menciptakan yang cukup.

Bagaimana cara membangun sensibilitas visual yang tidak bisa digantikan AI?

Lewat proses yang melibatkan tubuh dan keputusan real-time: menggambar manual, bereksperimen dengan bahan fisik, menghadapi kegagalan yang tidak bisa di-undo. Sensibilitas terbentuk dari pengalaman gagal yang diulang bukan dari pilihan yang selalu tersedia.

 

 

Tag: AI dan Kreativitas desain grafis DKV Indonesia Grafis Indonesia Milton Glaser Pendidikan Desain Proses Kreatif Saul Bass Seni Surealis Visualis
Artikel ini bermanfaat? Bagikan.
X / Twitter LinkedIn WhatsApp
Penulis
Aten Waluya
Kontributor Visualis — platform pengetahuan desain, AI, dan industri kreatif Indonesia.

Artikel Terkait

Punya perspektif lain tentang topik ini?

Tulis di Visualis dan jangkau ribuan pembaca yang tepat.

Tulis Artikel
← Sebelumnya
Lahirnya Generasi Prompt Monkey di Kampus DKV

Login untuk meninggalkan komentar dan berdiskusi dengan penulis.

WhatsApp