EDITORIAL · REDAKSI VISUALIS.ID
Kalau dosennya kelelahan karena harus cari penghasilan tambahan dan mahasiswanya belajar dari kanal YouTube, lalu apa yang sebenarnya dijual sebuah kampus DKV? Jawaban paling jujur dan paling tidak enak didengar adalah: ijazah, bukan ilmu.
Pernah nggak Anda perhatikan, di banyak kampus DKV swasta hari ini ada keganjilan kecil yang sudah jadi normal? Dosen masuk kelas dengan mata setengah terbuka. Materinya terasa familiar karena memang slide tahun lalu. Sementara di kos-kosan, mahasiswanya justru sedang menonton tutorial dari seorang desainer di YouTube yang menjelaskan topik yang sama, lebih jelas, lebih seru, dengan contoh yang lebih kekinian. Dua-duanya tidak salah. Dua-duanya sedang bertahan hidup.
Kita tidak sedang menuduh siapa pun malas. Kita sedang melihat sebuah sistem yang diam-diam patah dan semua orang di dalamnya sebenarnya bersikap masuk akal.
Kenapa dosen DKV terpaksa jadi freelancer?
Mari mulai dari angka yang sudah diverifikasi. Di sidang Mahkamah Konstitusi Mei 2026, Asosiasi Dosen Indonesia menyebut rata-rata gaji dosen di Indonesia hanya sekitar Rp 3,36 juta per bulan angka yang membuat profesi ini tertinggal dari rekan-rekannya di Vietnam dan Filipina. Dan menurut riset Serikat Pekerja Kampus, sekitar 76% dosen mengaku terpaksa mengambil pekerjaan sampingan karena gaji yang rendah.
Bayangkan Pak Bambang (bukan nama sebenarnya, tapi Anda pasti kenal sosoknya). Dosen DKV di sebuah kampus swasta. Beban mengajar 12 SKS, plus administrasi, rapat, bimbingan. Gajinya tidak cukup untuk satu keluarga. Maka solusinya sama seperti tiga dari empat dosen di negeri ini: buka akun freelance, ambil order logo dan brand identity di sore, malam, dan akhir pekan.
Masalahnya bukan Pak Bambang punya etos kerja luar biasa itu justru patut dihormati. Masalahnya adalah harga yang dibayar di ruang kelas. Ketika kapasitas mental seseorang sudah habis untuk mengejar deadline klien yang menunggu kiriman besok pagi, mengajar berubah jadi transaksional. Bimbingan jadi seadanya. Feedback jadi copy-paste. Riset dan mengikuti perkembangan industri? Tidak ada waktu. Dosen hadir secara fisik, tapi energinya sudah disetor ke tempat lain.
Kenapa mahasiswa lebih percaya YouTube daripada dosennya?
Sekarang lihat dari sisi mahasiswa. Minggu ini dosen menjelaskan komposisi dan hierarki visual dengan nada datar, materi lama, dan energi yang sudah terkuras. Malamnya, mahasiswa pulang, buka YouTube, dan menemukan kreator dengan ratusan ribu pengikut menjelaskan topik yang sama: lebih runtut, lebih menarik, dengan contoh yang relevan dengan tren tahun ini. Bisa di-pause, di-rewind, dipercepat dua kali.
Lalu mahasiswa belajar dari YouTube, bukan dari dosennya. Dan ini bukan kesalahan mahasiswa. Ini pilihan rasional. Kalau kualitas konten gratis di internet lebih tinggi daripada kuliah yang dibayar mahal, untuk apa memilih yang lebih buruk? Generasi ini hanya melakukan apa yang diajarkan ekonomi dasar: ambil nilai terbaik dengan biaya terendah.
Bagaimana satu lingkaran setan terbentuk?
Di sinilah dua persoalan tadi bertemu dan saling memperburuk. Dosen yang lelah mengajar seadanya. Mahasiswa yang tidak terlibat lalu lari ke YouTube. Mahasiswa yang merasa dosennya tidak relevan jadi makin jarang memperhatikan. Dosen yang melihat kelasnya kosong perhatian jadi makin tak termotivasi menyiapkan materi. Kenapa repot-repot menyiapkan kuliah kalau toh tidak ada yang menyimak?
Lingkaran ini berputar terus, makin lama makin erat. Dan dari kursi paling atas meja rektorat semuanya tampak baik-baik saja. Pendaftaran sehat. Uang kuliah masuk. Kelas penuh. Akreditasi aman. Yang tidak terlihat di laporan tahunan adalah bahwa fungsi mengajar sudah diam-diam dialihdayakan ke konten gratis di internet. Dosen ada. Kelas ada. Tapi yang benar-benar mengajar adalah tutorial YouTube dan instruksi gig dari klien pertama.
Kampus berubah dari institusi ilmu menjadi pabrik ijazah dan celakanya, sebagai pabrik ijazah ia masih berfungsi sangat baik.
Apakah kampus DKV sudah jadi perantara yang tidak perlu?
Pertanyaan ini terdengar kasar, tapi mahasiswa Gen Z yang rasional sudah diam-diam menghitungnya. Empat tahun kuliah dengan biaya puluhan juta, yang isi pelajarannya kurang lebih sama dengan yang bisa diakses gratis atau lewat kursus online seharga ratusan ribu. Di ujungnya: selembar ijazah. Bandingkan dengan jalur lain kursus intensif, latihan langsung lewat platform freelance, portofolio dari proyek klien nyata, dan penghasilan yang bisa mulai mengalir lebih cepat.
Dari kacamata untung-rugi murni, jalur kedua sering menang. Maka pertanyaan yang dulu dilontarkan seorang dosen senior — apa, sebenarnya, yang ditawarkan kampus yang tidak ditawarkan YouTube? jadi menohok. Jawaban idealnya banyak: mentorship, fondasi teori, cara berpikir konseptual, genealogi bahasa rupa Indonesia. Tapi dalam praktik, justru hal-hal itulah yang paling pertama dikorbankan ketika dosennya kelelahan.
Apa yang sebenarnya hilang — dan tak ada yang mengajarkannya?
Inilah bagian yang paling sunyi. YouTube dan platform freelance sangat hebat mengajarkan teknik dan resep: bagaimana membuat sesuatu, bagaimana cepat, bagaimana laku. Tapi ada satu hal yang struktur ini hampir tidak pernah ajarkan yaitu kenapa. Filosofi tipografi. Genealogi bahasa visual dalam konteks Indonesia. Penguasaan kriya lewat latihan mendalam. Cara berpikir historis. Kritik dan refleksi.
Dulu, justru hal-hal inilah tugas utama seorang dosen untuk menanamkannya. Sekarang, ketika kampus mengalihdayakan pengajaran ke internet, yang hilang bukan tekniknya teknik aman, internet penuh dengannya. Yang hilang adalah lapisan yang membuat seseorang bukan sekadar operator yang cekatan, melainkan desainer yang tahu apa yang sedang ia lakukan dan kenapa.
Kita tidak sedang menyalahkan dosen yang banting tulang, mahasiswa yang berhitung cermat, atau bahkan kampus yang berusaha bertahan. Semua bertindak masuk akal di dalam sistem yang insentifnya sudah miring. Tapi kalau setiap pihak berlaku rasional dan hasilnya tetap satu angkatan desainer yang dalam tekniknya tapi dangkal pemahamannya mungkin yang perlu diperbaiki bukan orang-orangnya, melainkan sistemnya.
Maka pertanyaan yang kami biarkan menggantung bukan “bolehkah belajar dari YouTube”. Boleh, dan bagus. Pertanyaannya: kalau kampus sudah berhenti mengajarkan kenapa, dan tidak ada lagi yang mengambil alih tugas itu siapa yang akan mengajari generasi desainer berikutnya untuk berpikir, bukan sekadar mengeksekusi?
FAQ
Kenapa banyak dosen DKV swasta mengambil pekerjaan freelance?
Karena tingkat gaji yang rendah. Asosiasi Dosen Indonesia menyebut rata-rata gaji dosen sekitar Rp 3,36 juta per bulan (sidang MK, Mei 2026), dan riset Serikat Pekerja Kampus mencatat sekitar 76% dosen terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Apakah salah jika mahasiswa belajar desain dari YouTube?
Tidak. Belajar dari YouTube adalah pilihan rasional dan bisa sangat bermanfaat. Persoalannya muncul ketika kampus diam-diam mengandalkan konten gratis itu sebagai pengganti pengajaran, sehingga lapisan konseptual yang seharusnya diajarkan dosen menjadi hilang.
Apa yang tidak bisa diajarkan oleh tutorial online?
Tutorial unggul dalam mengajarkan teknik dan resep, tetapi jarang mengajarkan filosofi tipografi, genealogi bahasa rupa Indonesia, cara berpikir historis, serta kritik dan refleksi hal-hal yang membentuk pemahaman “kenapa” di balik sebuah keputusan desain.
Apakah kampus DKV masih relevan di era ini?
Relevan, tetapi nilainya bergeser. Jika kampus hanya menjadi penyedia ijazah, mahasiswa rasional akan membandingkannya dengan jalur belajar mandiri yang lebih murah. Relevansi kampus bergantung pada apakah ia mampu memberikan mentorship dan fondasi berpikir yang tidak tersedia gratis.
Siapa yang paling bertanggung jawab atas situasi ini?
Ini masalah sistemik, bukan kesalahan individu. Dosen, mahasiswa, dan kampus sama-sama bertindak rasional dalam struktur insentif yang sudah miring. Perbaikan perlu menyentuh akar persoalan kesejahteraan dosen dan desain ulang peran kampus bukan menyalahkan satu pihak.
[…] keluaran. Saya sudah pernah menulis bagaimana lingkaran ini menjerat bahkan para pengajar kita dosen yang ngamen di Fiverr sementara mahasiswanya belajar dari YouTube. Fiverr hari ini, sejujurnya, adalah pratinjau pasar kerja […]