Lewati ke konten
Insights + Opinion

Mahasiswa DKV Kita Bisa Generate 100 Aset dalam Sejam, Tapi Tidak Bisa Menjelaskan Kenapa Warnanya Itu

Portofolio mahasiswa DKV kita semakin cantik. Sesi review-nya semakin hening. Kami tidak yakin keduanya adalah kabar baik dan kami punya lima alasan untuk itu.

visualis
13 June 2026  Β·  7 menit baca
X in wa
Desainer-tanpa-karya_1_1.png

Redaksi Visualis.id  Β·  AI + Creatives, Pendidikan Desain

Pertanyaan ini bukan soal apakah AI boleh dipakai di kampus. Boleh. Pertanyaannya lebih sederhana dan lebih merepotkan: kalau karya tidak lagi bisa dilacak ke keputusan seseorang, masih bisakah kita menyebutnya karya?

Pernah nggak Anda perhatikan, portofolio mahasiswa DKV sekarang terlihat sangat bagus? Konsisten, rapi, trend-aware. Feed Instagram-nya seperti studio profesional. Brief dikerjakan tepat waktu. Revisi diselesaikan dalam hitungan menit. Dosen manggut-manggut puas.

Tapi begitu ditanya di sesi review, “kenapa font ini dipilih?” ada keheningan yang berbeda dari keheningan mahasiswa yang sedang berpikir keras. Ini keheningan lain. Keheningan mahasiswa yang tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena malas. Bukan karena tidak belajar. Tapi karena pertanyaan itu tidak pernah muncul dalam workflow mereka. Mereka generate, mereka pilih yang paling estetik, mereka submit. Tidak ada satu momen pun di mana seseorang harus memutuskan sesuatu berdasarkan alasan.

“Dulu mahasiswa bisa salah pilih font, tapi mereka tahu kenapa memilihnya. Sekarang kita punya mahasiswa yang pilih font dengan benar dan tidak tahu kenapa.”

Dan ini bukan ironi kecil. Ini gejala dari sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi diam-diam di kampus DKV seluruh Indonesia.

Lima wajah “desainer tanpa karya” di kampus DKV kita

Istilah “desainer tanpa karya” pertama kali kami dengar dari seorang dosen senior yang sudah 30 tahun mengajar. Bukan sebagai hinaan. Tapi sebagai observasi yang ia sampaikan dengan lelah bukan marah, tapi lelah. Kami tidak langsung setuju. Kami coba petakan dulu.

Hasilnya: ada setidaknya lima pola berbeda yang semua bermuara ke satu masalah yang sama. Dan semuanya punya nama yang lebih jujur dari “mahasiswa yang tidak serius.”

Pola 01
Portfolio Hollow β€” “Teknis Bagus, Tapi Kosong Isi”
Mahasiswa ini bisa mengoperasikan Figma, Photoshop, dan Canva dengan sangat baik. Work-nya secara teknis benar, estetikanya mengikuti tren. Tapi tidak ada suara pribadi di sana. Setiap proyek terasa familiar karena memang terinspirasi dari referensi yang sama papan Pinterest yang sama, feed Behance yang sama, prompt Midjourney yang sama. Ketika di-challenge lebih jauh, ia bisa menjelaskan teknis tapi tidak bisa menjelaskan why di luar konteks tren. “Ini lagi populer” bukan justifikasi desain. Itu laporan cuaca.
Pola 02
No Accountability β€” “Operator, Bukan Pembuat”
Di sini AI atau tool otomatis mengerjakan mayoritas pekerjaan berat. Mahasiswanya mostly mengelola output atau sedikit menyesuaikan. Masalahnya bukan di sini masalahnya di pertanyaan yang mengikuti: siapa yang bertanggung jawab kalau hasilnya jelek? Jawaban yang kami dengar semakin sering adalah variasi dari “AI-nya yang seperti itu,” atau “prompt-nya kurang tepat.” Tidak ada skin in the game. Tidak ada momen di mana seseorang berdiri di belakang keputusan dan berkata: ini pilihanku, dan ini alasanku. Tanggung jawab moral atas karya telah dioutsource bersama karyanya.
Pola 03
Conceptually Hollow β€” “Tahu Tools, Tidak Tahu Why”
Ini mungkin yang paling halus dan paling berbahaya. Eksekusinya bagus. Tapi fondasinya kosong. Pilih font karena “terlihat bagus di Pinterest” bukan karena memahami bagaimana weight sebuah typeface berkomunikasi dengan kepribadian brand. Pilih warna karena “trending” bukan karena memahami psikologi warna atau konteks kultural audiens. Selama tren tidak berubah, mahasiswa ini terlihat kompeten. Begitu tren bergeser, mereka bingung karena tidak punya framework untuk berpikir, hanya kumpulan referensi yang bisa diperbarui setiap hari dari algoritma.
Pola 04
Only Interface “Hanya Ada Klik, Tidak Ada Artefak”
Yang dihasilkan mahasiswa ini bukan artefak desain melainkan sequence interaksi dengan antarmuka. Teks prompt yang ditulis. Parameter slider yang disesuaikan. Screenshot dari tool. Tidak ada sesuatu yang sungguh dibuat dengan tangan atau dengan keputusan penuh. Portfolio mereka penuh dengan output yang secara teknis muncul dari mereka, tapi tidak bisa ditelusuri ke momen di mana seseorang benar-benar membuat sebuah keputusan kreatif. Ini bukan soal nostalgia terhadap kerja tangan. Ini soal: apakah ada titik di mana niat dan keputusan bertemu dengan eksekusi?
Pola 05
Curator, Not Creator “Remix Tanpa Asal-Usul”
AI generatif bekerja dengan cara menggabungkan ulang data latih yang sudah ada. Desainer yang menggunakannya tanpa pemahaman ini pada dasarnya sedang mengkurasi bukan menciptakan. Masalahnya bukan di kuasi itu sendiri; kurasi yang disadari dan disengaja adalah keterampilan yang valid. Masalahnya ketika kurasi diklaim sebagai kreasi, dan institusi tidak punya alat untuk membedakannya. Originalitas bukan lagi tentang dari mana ide datang tapi tentang apakah ada niat dan konteks yang bisa dipertanggungjawabkan di baliknya. Dan itulah yang tidak terlihat.

Yang mengkhawatirkan bukan salah satu dari lima pola ini secara terpisah. Yang mengkhawatirkan adalah ketika seorang mahasiswa masuk dalam semua lima sekaligus dan IPK-nya tetap 3,8. Sistem kita tidak hanya gagal mendeteksi masalah ini. Sistem kita aktif memberinya penghargaan.

Kampusnya yang bermasalah, atau kurikulumnya?

Mari kita jujur: sistem penilaian desain di sebagian besar kampus DKV Indonesia tidak dirancang untuk mendeteksi kehampaan konseptual. Kita menilai ketepatan visual, kerapian layout, dan ketaatan brief. Ada rubrik untuk komposisi. Ada rubrik untuk warna. Tidak ada rubrik untuk “apakah mahasiswa ini tahu kenapa ia memilih ini.” Dan ini bukan semata kesalahan kampus. Ini adalah masalah sistemik yang bergerak lebih cepat dari kemampuan institusi untuk beradaptasi. Ketika seorang dosen yang menuntut justifikasi verbal dianggap “ribet” atau “nggak relevan zaman sekarang” dan mahasiswa yang bisa menghasilkan 50 varian logo dalam dua jam dianggap produktif dan kreatif kita sedang mengoptimalkan metric yang salah. Dan selamat: kita berhasil melakukannya dengan sangat efisien.

Sistem penilaian kita tidak gagal menangkap mahasiswa tanpa karya. Sistem kita dengan tulus memberi mereka nilai A.

Di luar angka akreditasi dan feed portofolio yang memukau, ada sebuah pertanyaan yang menggantung di udara setiap ruang review: ketika mahasiswa ini lulus dan klien pertama mereka bertanya “kenapa desainnya seperti ini?” jawaban apa yang akan mereka berikan?

Mungkin mereka akan generate opsi baru. Mungkin mereka akan berkata “ini yang paling bagus menurut AI.” Atau mungkin dan ini yang paling mencemaskan kami β€” mereka akan memberikan jawaban yang persis sama dengan yang mereka berikan di ruang review kampus dulu: keheningan yang tampak seperti seseorang sedang berpikir.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Kami tidak datang dengan solusi lengkap. Tapi ada beberapa titik masuk yang rasanya lebih jujur dari sekadar “melarang AI di kelas” yang, sejauh pengamatan kami, tidak pernah berhasil dan tidak seharusnya menjadi jawabannya.

Pertama, ubah yang dinilai. Bukan hanya output akhir, tapi proses pengambilan keputusan. Rubrik yang memasukkan justifikasi verbal kenapa pilihan ini, atas dasar apa, untuk audiens siapa memaksa mahasiswa untuk kembali ke momen di mana seseorang harus sungguh memutuskan sesuatu.

Kedua, pisahkan eksplorasi dan presentasi. Biarkan AI dipakai bebas di fase eksplorasi. Tapi di momen presentasi, mahasiswa harus bisa berdiri di belakang karya dan berkata: ini keputusanku. Bukan “ini output terbaik dari iterasi ke-47.”

Ketiga dan ini yang paling sulit kampus perlu berani mendefinisikan ulang apa artinya “kompeten” di era ini. Bukan seberapa cepat menghasilkan, tapi seberapa dalam memahami mengapa menghasilkan sesuatu yang seperti ini, bukan yang lain.

Kami tidak tahu persis seperti apa jawabannya. Tapi kami cukup yakin dengan pertanyaannya: apakah kampus DKV kita sedang menghasilkan desainer atau operator yang sangat estetis?

https://www.kompasiana.com/jagobandung4138/6943ff6c34777c0cc37b7742/dosen-pakai-ai-itu-efesiensi-mahasiswa-pakai-ai-itu-kriminal-sebuah-satir-akademik
FAQ
Apa yang dimaksud “desainer tanpa karya” di era AI?
Istilah ini merujuk pada desainer yang mampu menghasilkan output visual berkualitas tinggi dengan bantuan AI, namun tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan di baliknya tidak ada suara pribadi, tidak ada akuntabilitas, tidak ada fondasi konseptual yang bisa ditelusuri.
Apakah penggunaan AI di kampus DKV adalah masalah?
Penggunaan AI bukan masalah utamanya. Masalahnya adalah sistem evaluasi yang belum mampu membedakan antara kemampuan mengoperasikan AI dengan kemampuan berpikir desain secara mandiri dan dapat dipertanggungjawabkan.
Apa perbedaan kurator dan kreator dalam desain berbasis AI?
Kreator memulai dari niat; kurator memilih dari pilihan yang sudah ada. Keduanya bisa valid masalahnya ketika kurasi diklaim sebagai kreasi, dan institusi tidak punya rubrik untuk membedakannya.
Apa langkah konkret yang bisa dilakukan dosen DKV?
Tiga titik masuk: (1) tambahkan justifikasi verbal ke rubrik penilaian, (2) pisahkan fase eksplorasi AI dari fase presentasi yang harus dipertanggungjawabkan, (3) definisikan ulang “kompetensi” bukan dari kecepatan output tapi dari kedalaman keputusan desain.
Apakah ini hanya masalah mahasiswa yang malas?
Tidak. Ini adalah masalah sistemik ketika sistem penilaian mengoptimalkan output visual tanpa memeriksa proses berpikir di baliknya, maka mahasiswa yang “pintar” akan beradaptasi ke apa yang dihargai sistem tersebut. Masalahnya bukan di individu mahasiswanya, tapi di insentif yang dibangun institusi.

Tag: ai desain indonesia Desainer Muda dkv Kampus Kreativitas Kurikulum DKV Pendidikan Desain Teknologi Visualis
Artikel ini bermanfaat? Bagikan.
X / Twitter LinkedIn WhatsApp
Penulis
visualis
Kontributor Visualis β€” platform pengetahuan desain, AI, dan industri kreatif Indonesia.

Artikel Terkait

Punya perspektif lain tentang topik ini?

Tulis di Visualis dan jangkau ribuan pembaca yang tepat.

Tulis Artikel
← Sebelumnya
Desainer Tua Itu Tidak Hilang. Mereka Cuma Tidak Bersuara.
Berikutnya β†’
Teknokultur Bukan Kuliah, Ia Soundtrack Zaman Kita

Login untuk meninggalkan komentar dan berdiskusi dengan penulis.

WhatsApp